Jika Esok Ngga Pernah Datang

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya,  Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.

Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.

Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?

Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.

Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.

Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.

Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”

Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini

Iklan
Dipublikasi di ARTIKEL | Meninggalkan komentar

– with Gusti Ngurah and 4J3N6 at Hanamasa

View on Path

| Meninggalkan komentar

– with Gusti Ngurah and 4J3N6 at Hanamasa

View on Path

| Meninggalkan komentar

– with Gusti Ngurah

View on Path

| Meninggalkan komentar

Menciptakan teman atau musuh

Alkisah Pada zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani. Petani itu meminta

tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli. Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.

Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan

mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?” Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

“Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus manjaga domba-domba Anda supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda tetap sebagai teman.” Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut. Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu domba-domba pak tani.

Di samping rasa terimakasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasi buruan kepada petani.

Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik – with Gusti Ngurah

View on Path

| Meninggalkan komentar

Menjalani hidup bisa diibaratkan naik sepeda gayung sangat dibutuhkan sekali kesimbangan agar tak jatuh, perlu juga tenaga extra untuk bisa mengayuh pedal agar mampu naik dijalan tanjakan, perlu kewaspadaan tinggi pada jalan menurun, butuh keseimbangan dari stang, rem dan kayuhan pedal sangat menentukan agar tak jatuh ke jurang atau jatuh terpelanting dan mampu sampai di tujuan ( balance body, mind and soul)

Pada saat mulai belajar naik sepeda yang penting adalah berani mencoba dan berani jatuh, berani lecet dsbnya!.. bukan hanya cuma berkomentar bermacam2 tehnik naik sepeda!!.. Setelah sudah bisa/mampu dan sudah terbiasa maka akan tahu dan faham keseimbangan vertikal horizontal, dan akan langsung cepat pula bisa beradaptasi dengan berbagai macam jenis sepeda apapun akan langsung bisa menaikinya tanpa ada rasa ragu dan khawatir.

Namun apabila sepeda itu cuma dielus2, dilap dan dipandang saja sampai ajalpun akan tiba tak akan bisa naik sepeda, dan yang lebih penting juga, jangan lupa beli dulu sepedanya!.lalu baru bisa menaikinya, kalau masih belum punya, pinjem saja dulu sekali-kali pada teman..
#sambilNyeruputKopi – with Gusti Ngurah at Yamaha Indonesia Motor Manufacturing

View on Path

| Meninggalkan komentar

– with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar

Training – with Gusti Ngurah at Yamaha Indonesia Motor Manufacturing

View on Path

| Meninggalkan komentar