Jika Esok Ngga Pernah Datang

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya,  Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.

Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.

Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?

Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.

Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.

Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.

Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”

Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini

Dipublikasi di ARTIKEL | Meninggalkan komentar

Dasa Yama Bratha adalah sepuluh macam pengendalian diri, Dasa Yama Bratha ini juga merupakan bagian dari ajaran subha karma yang meliputi yaitu :
Anresangsya atau Arimbhawa, tidak mementingkan diri sendiri
Ksama, suka mengampuni dan tahan uji dalam kehidupan.
Satya, setia kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang.
Ahimsa, tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain.
Dama, mampu menasehati diri sendiri.
Arjawa, jujur dan mempertahankan kebenaran.
Priti; cinta kasih dan sayang terhadap sesama mahluk.
Prasada, berfikir dan berhati suci dan tanpa pamerih.
Madurya, ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun.
Mardhawa, rendah hati; tidak sombong dan berfikir halus.
Kesepuluh istilah ini selalu mengajarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik.
Contoh-contoh pelaksanaan Dasa Yama Bratha, bertujuan agar kita dapat mengikutinya untuk kesempurnaan hidup ini seperti halnya :

Jangan mengaku dan merasa diri selalu paling benar.
Hiduplah rukun saling mengasihi sesama teman di sekolah
Menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai terhadap orang lain
dll – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar

*SEPULUH SIKAP HIDUP BAHAGIA*

*Oleh : Mahatma Gandhi*

*1. Lepaskanlah rasa kuatir dan ketakutan*
Ketakutan dan kekuatiran hanyalah imajinasi pikiran akan suatu kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. Kebanyakan hal-hal yang Anda kuatirkan dan takutkan tak pernah terjadi ! It’s all only in your mind.

*2. Buanglah dendam*
Dendam dan amarah yang disimpan hanya akan menyedot energi diri Anda dan hanya mendatangkan *KELELAHAN JIWA. BUANGLAH !!!*


*3. Berhentilah mengeluh*
Mengeluh berarti selalu tak menerima apa yang ada saat ini. Secara tak sadar Anda membawa-bawa beban negatif.


*4. Bila ada masalah, selesaikan satu per satu*
Hanya inilah cara menangani setiap masalah : Satu demi satu.


*5. Tidurlah dengan nyenyak*
Semua masalah tak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk dan tidak sehat. Biasakanlah tidur dengan nyaman.


*6. Jauhi urusan orang lain*
Biarkan masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri. Mereka memiliki cara sendiri untuk menangani setiap masalahnya.


*7. Hiduplah pada saat Ini, bukan masa lalu*
Nikmati masa lalu sebagai kenangan, jangan tergantung pada nya. Konsentrasilah hidupmu pada kejadian saat ini, karena apa yang Anda miliki adalah saat ini, bukan kemarin, bukan besok. “Be totally present”


*8. Jadilah pendengar yang baik*
Saat menjadi pendengar, Anda belajar dan mendapatkan ide-ide baru yang berbeda dari orang lain.


*9. Berpikirlah positif*
Rasa frustasi datang dari pikiran negatif. Kembalilah berpikir positif.
Bertemanlah dengan orang-orang yang berpikiran positif dan terlibatlah dengan kegiatan-kegiatan positif.


*10. Bersyukurlah atas hal-hal kecil yang akan membawa Anda pada hal-hal besar*
Sekecil apapun karunia yang Anda terima, akan menghasilkan hal-hal besar dan selalu membawa Anda kepada kebahagiaan saat Anda bersyukur.

SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA! – with Gusti Ngurah

View on Path

| Meninggalkan komentar

*KAWERUH SAPOLO*

Ada 11 Fase Kehidupan Manusia Dalam Falsafah Jawa, yaitu:

*1. Maskumambang*

Simbol fase ruh/kandungan di mana kita masih “mengapung” atau “kumambang” di alam ruh dan kemudian di dalam kandungan yang gelap.

*2. Mijil*

Mijil artinya keluar. Ini adalah fase bayi, dimana kita mulai mengenal kehidupan dunia. Kita belajar bertahan di alam baru.

*3. Sinom*

Sinom adalah masa muda, masa dimana kita tumbuh berkembang mengenal hal2 baru.

*4. Kinanthi*

Ini adalah masa pencarian jati diri, pencarian cita2 dan makna diri.

*5. Asmaradhana*

Fase paling dinamik dan ber-api2 dalam pencarian cinta dan teman hidup.

*6. Gambuh*

Fase dimulainya kehidupan keluarga dengan ikatan pernikahan suci (gambuh). Menyatukan visi dan cinta kasih

*7. Dhandang Gula*

Ini adalah fase puncak kesuksesan secara fisik dan materi (dhandang = bejana). Namun selain kenikmatan gula (manisnya) hidup, semestinya diimbangi pula dengan kenikmatan rohani dan spiritual.

*8. Durma*

Fase dimana kehidupan harus lebih banyak didermakan untuk orang lain, bukan mencari kenikmatan hidup lagi (gula). Ini adalah fase bertindak sosial. *Dan berkumpul dengan teman2 seperjuangan, bersosialisasi.

*9. Pangkur*

Ini adalah fase uzlah (pangkur-menghindar), fase menyepi, fase kontemplasi, mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Menjauhkan diri dari gemerlapnya hidup.

*10. Megatruh*

Ini fase penutup kehidupan dunia, dimana Ruh (Roh) meninggalkan badan (megat: memisahkan). Fase awal dari perjalanan menuju keabadian.

*11. Pucung*

Fase kembali kepada Allah, Sang Murbeng Dumadi, Sangkan Paraning Dumadi. Diawali menjadi pocung (jenazah), ditanya seperti lagu pocung yang berisi pertanyaan. Fase menuju kebahagiaan sejati, bertemu dengan yang Mahasuci.

*_Panjenengan di tahap mana?_*
Semoga bermanfaat… sekedar mengingatkan kembali.

*Wong jawa aja nganti ilang jawane* – with Gusti Ngurah

View on Path

| Meninggalkan komentar

Tabuh Rah adalah simbolisasi nyupat bhuta kala sebagaimana disebutkan artikel agama hindu tentang siwa siddhanta yang memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin.
Dalam Lontar Siwa Tattwa Purana sebagaimana juga dijelaskan pada dokumen Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara di Facebook,

“…..mwah ring tileming kesanga, hulun megawe yoga, teka wang ing madyapada magawe tawur kasowangan, den hana pranging sata, wenang nyepi sadina ika labain sang Kala Dasa Bhumi; yanora samangkana rug ikang ning madhyapada………”

Syarat-syarat tabuh rah menurut kesimpulan komisi 2 seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu tahun 1976 di Denpasar:

Diadakan sekitar area caru/tawur, bertepatan dengan upacara.
Sabungan ayam 3 seet (ronde) semuanya setelah itu disambleh
Diikuti dengan adu buah kelapa, telur bebek dan tingkih 3 kali
Ada “toh” namun tanpa unsur judi, artinya kemenangan toh di dana-puniakan kepada penyelenggara caru/tawur
Maka sebaiknya dalam Pecaruan atau Tawur Kesanga diadakan tabuh rah berdekatan dengan arena tawur, namun diawasi agar tidak berubah menjadi tajen, demikian disebutkan.
Menurut kepercayaan umat Hindu, Jaba Pura dianggap sebagai tempat para bhuta kala, sehingga halaman ini digunakan sebagai tempat memberi sesajen kepada makhluk tersebut agar tidak mengganggu manusia.
Halaman ini digunakan untuk mengadakan upacara yang berhubungan dengan makhluk itu, seperti upacara mecaru, dan tabuh rah dll. – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar

Dalam kesimpulannya disebutkan bahwa “Pengaruh Triguna Terhadap Tingkat Sradha Dalam Pengembangan Budi Pekerti” adalah :
Dengan memahami sifat-sifat pada diri manusia yaitu triguna dapat diketahui bentuk, fungsi dan maknanya sehingga untuk melampaui ketiga sifat ini sesungguhnya dapat dilakukan dengan cara mengikuti petunjuk dharma.
Berusaha merubah perilaku dari sifat raksasa menjadi sifat devata dengan memperbanyak melakukan tapa brata yoga semadhi yang teratur niscaya segala yang diajarkan dalam ajaran suci dapat segera terwujud melalui berapa siklus kelahiran perlahan namun yakin jika ini dilaksanakan setiap kelahiran berikutnya pasti akan lebih baik begitu seterusnya sehingga moksa pun dapat tercapai.
Berdasarkan pengertian di atas, maka bahwa setiap tindakan atau perbuatan dan pikiran yang ada di dalam diri manusia tidak lepas dari pengaruh yang timbul dari sesuatu, baik dari pikiran maupun tingkah laku. Yang disebabkan oleh keinginan diri sendiri atau oleh pengaruh yang berada di sekitar manusia waktu, tempat keadaan dan lingkungannya. Bila setiap orang dapat membina hubungan yang harmonis dengan Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa dengan mengikuti segenap ajaran-Nya, maka sesungguhnya akan memancar kasih sayang kepada sesama manusia bahkan kepada segala mahluk hidup (sarvaprani hitangkara).
Setiap ajaran agama termasuk ritual sebagai salah satu ekspresi atau perwujudan ajaran agama mengandung ajaran untuk membina hubungan yang harmonis antara sesama umat manusia, makhluk hidup dan alam lingkungannya
Analisis interpretasi justru akan mampu mengungkap makna di balik fenomena real dan abstrak. Bahkan tidak ada penelitian mana pun yang sebenarnya menolak kehadiran penafsiran. Karena, tanpa penafsiran sedikit pun sesungguhnya penelitian itu menjadi berkadar lemah. Paling tidak, peneliti tidak akan memahami apa yang hakiki dari fenomena yang tampak. Ada proposisi (dalil) yang menyatakan bahwa setiap gerak yang terpantul pada fenomena budaya penuh dengan simbol.
Simbol hanya akan bermakna ketika ditafsirkan. Penafsiran ini bisa hadir dari peneliti maupun orang yang diteliti. Jika hadir dari peneliti, berarti mengandalkan kekuatan teori yang bersifat positivisme, dan bila penafsiran mengandalkan pada pemilik budaya berarti mengandalan sifat naturalistik. Kedua macam penafsiran ini sama-sama kuat dan bisa dibenarkan.
Namun demikian, sebagian besar penafsiran yang dipandang bagus manakala hadir dari si pemiliki budaya. Tunner memberikan rambu-rambu dalam penafsiran simbol budaya, misalnya penelitian simbol ritual dapat dilakukan melalui pengkategorian data menjadi tiga kelompok;
Bentuk eksternal dan karakteristik dari hal-hal yang dapat diamati,
Penafsiran yang diberikan oleh orang ahli dan orang awam,
Signifikansi konteks yang biasanya dikerjakan oleh orang-orang di luar antropolog.
Dari tiga hal tersebut tampak bahwa; penafsiran simbol budaya membutuhkan kecermatan data. Pengolahan data perlu memperhatikan pengamatan yang serius terhadap fenomena.
Peneliti perlu menggali penafsiran dari para ahli dan para orang awam, dari keduanya tentu memiliki implikasi yang berbeda.
Keduanya saling melengkapi dalam penafsiran dan tidak boleh dipandang remeh satu sama lain.
Lebih penting lagi dalam penafsiran diperlukan konteks. Juga rambu-rambu yang biasa ditempuh oleh pengkaji budaya secara hermeneutik adalah seperti ditekankan Gadamer yaitu tentang konsep “pemahaman”.
Pemahaman berarti membuat interpretasi terhadap gejala. Tugas penafsir budaya adalah menjelaskan persoalan “mengerti”, yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi.
Interpretasi adalah sensus non est inferendus sed efferendus, artinya makna bukanlah diambil dari kesimpulan melainkan harus diturunkan yang bersifat instruktif. Jadi seorang penafsir tak boleh pasif, melainkan harus merekonstruksi makna.
Ukuran kwalitas Triguna pada seseorang sangat tergantung dengan tiga faktor yaitu :
Karma wasana (perbuatan terdahulu / perbuatan masa lampau),
Subakarma (perbuatan baik )
Asubakarma (perbuatan tidak baik), kalau dirumuskan sebagai berikut :
(TG = KW + (SK-ASK).
Guna mencapai kalepasan orang terlebih dahulu harus menunaikan tugasnya tanpa mengharapkan pahalanya. Selanjutnya orang harus mempelajari weda di bawah pimpinan seorang guru yang akan memimpinnya menurut kemampuan masing-masing, sehingga orang akan mendapatkan pengetahuan yang benar tentang dirinya dan tentang Tuhan. Pengetahuan ini akan melahirkan kasih kepada Tuhan. Kasih ini harus dipelihara sehingga menjadi kasih yang tiada putusnya atau menjadi pemujaan yang terus menerus atau bhakti. Akhirnya Tuhan akan menganugrahkan karunia-Nya (prasadam). Karena karunia inilah manusia di dalam permenungannya akan merealiasasikan Tuhan secara intuitip.
***
Sumber Referensi, dikutip dari blog post TRIGUNA DAN SRADDHA, skripsi yang ditulis oleh IDA BAGUS SADUARSA

Dalam kutipan tersebut juga terdapat istilah – istilah sebagai berikut :

Sad Darsana, enam pandangan filsafat Hindu, yang mengkaji keberadaan sesuatu tentang sumber dan kebenaran pengetahuan ….
Rajas, sifat nafsu manusia yang perlu dikendalikan, yang dapat mengikat segala makhluk sehingga mereka betah tinggal di alam material. ……
Etika, sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar

Cinta adalah rasa yang muncul oleh siapa saja bahkan tidak mengenal perbedaan apalagi wangsa. Namun, cinta yang berbeda wangsa (tingkatan srata sosial) yang berlanjut pernikahan tidak jarang membuat seseorang harus mematikan atau menanggalkan kewangsaannya terutama perempuan tri wangsa jika menikah dengan sudra.

Menjadi dilema bagi perempuan yang mengalaminya karena harus terlepas dari kemuliaan yang biasanya selalu melekat pada tri wangsa. Itulah perkawinan nyerod yang pada akhirnya keputusan membuat segala status wangsa dari perempuan tri wangsa menikah dengan sudra tidak berlaku lagi.

Patiwangi, demikianlah upacaranya. Sebuah upacara yang dalam buku dari Dr. I Nyoman Yoga Segara berjudul ” Perkawinan Nyerod Kontestasi, Negosiasi, dan Komodifikasi di atas Mozaik Kebudayaan Bali” menyebutkan tentang patiwangi.

Patiwangi secara etimologi berasal dari pati artinya mati, dan wangi artinya wangi atau harum. Jadi patiwangi diartikan sebagai upacara pembunuhan atau penghilangan keharuman wangsa seseorang perempuan tri wangsa, salah satunya dengan tidak digunakannya lagi nama dan gelar kebangsawanan, dan biasanya ia akan diberikan nama jaba oleh keluarga suaminya.

Meskipun dalam keseharian seorang perempuan tri wangsa yang telah menikah dengan sudra masih menggunakan nama sesuai dengan tri wangsanya namun demikian namanya itu tidak lagi sebagai gelar kebangsawanan namun menjadi nama jaba yang secara starta kewangsaan dipandang lebih rendah.

Upacara ini ditujukan secara niskala untuk mengurangi atau mencegah adanya hal-hal yang tidak diinginkan seperti musibah terjadi atas perkawinan nyerod yang dilaksanakan. Hal ini dikarenakan karena perkawinan jenis nyerod sering dipandang sebagai perkawinan yang bisa kepanesan yang secara hukum adat Bali disebutkan sebagai asu pundung dan alangkahi karang hulu – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar

Kata tat twam asi berasal dari kata sanskerta, yang terdiri dari kata
“Tat”= itu/dia,
“Twam”= engkau,
dan”Asi”= adalah.
Jadi. secara umum kata “Tat Twam Asi” dapat diartikan;

Dia adalah engkau/kamu.

Sedangkan dalam filsafat Hindu “Tat Twam Asi” dijelaskan sebagai ajaran kesusilaan yang tanpa batas, dan identik dengan ajaran kemanusiaan (Humanisme).

Kitab Brhad Aranyaka Upanisad menyebutkan sebagai berikut

“Aham Brahma Asmi”
artinya aku adalah Brahman.
Ajaran ini merupakan dasar utama bagi kita untuk dapat mewujudkan masyarakat yang damai (santhi) yang patut kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta hubungan yang harmonis diantara kita.
Bila kita sungguh-sungguh dapat memahami dan menerapkannya maka dalam diri kita akan muncul sikap cinta kasih terhadap semua ciptaan-Nya.

Seperti halnya,

“menyayangi orang lain sebagaimana halnya menyayangi diri kita sendiri”

merupakan salah satu bentuk pengamalan dari ajaran ini, demikian disebutkan Tat Twam Asi yang dikutip dari artikel susila dalam berita terkini.

Namun ada pula disebutkan bahwa Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) sangat berkaitan dengan susila yang dalam babad bali disebutkan mengandung makna bahwa :

Hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri kita sendiri,

dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri kita sendiri.

Sehingga jiwa sosial demikian perlu diresapi sebagai sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar