Mertuaku (Ni Kompiang Made Tresni Geria Mendala)

MERTUAKU – IBUKU

Walau sudah amat sangat terlambat tulisan tentang ibuku yang sangat kuhormati, kukagumi dan kucintai ini dibaca dan diketahui oleh : suami, anak-anakku, ipar dan saudara-saudariku semua,tak apalah dari pada kusimpan dan mengkristal di hatiku sendiri.

Saya menikah dengan putra ibu yang ke-5 Pudja G. M tanggal 28-2-68 malam 29-2-68 dan menantu yang paling lama tinggal do Bondalem bersama beliau (Aji dan Ibu). Banyak pengalaman yang sedih, senang dan lucu sewaktu saya di Bondalem. Lima hari setelah menikah (awal Maret ’68), saya di ajak ke Bali oleh suami, dengan diantar eyang putri saya yakni ibu dari ibu saya almarhum yaitu R. Ngt Wiryosoemarto dan kakak laki-laki dari ibu saya yang sekarang Letnan Udara Sastro Wardoyo. Ada pengalaman lucu yang perlu saya sampaikan sesampainya kami di rumah Bondalem.

Aji Mas / Ayah dari Dik Sana Winaya langsung merangkul Pak De saya yang dikiranya Aji Nura yang  telah lama tidak ketemu, sehingga beliau berdua jadi salah tinggkah. Setelah menyerahkan saya kepada Aji dan Ibu, Eyang Putri dan Pak De (Uwa) pulang ke Yogya. Mulailah babak baru dalam kehidupan saya: bahasa, adat-istiadat yang berbeda menjadi kendala tersendiri bagi say. Apalagi Ibu tidak mau tahu menantunya yang dari Jawa sama sekali belum bisa dan belum mengerti bahasa Bali.

Ibu Cuma berkata kepada saya dengan bahasa Indonesia. “De, kamu harus bisa bahasa Bali. Saya Cuma tersenyum dan berjanji dalam hati untuk cepat bisa bahasa Bali entah bagaimana caranya. Setiap hari ada saja tamu yang datang waktu itu (Maret ’68). Kalau ada tamu, ibu-ibu duduk di Aula sedang bapak-bapakdi teras rumah sebelah timur. Kamar tidur saya disebelah selatan kamar tidur Aji dan Ibu. Waktu itu kira-kira jam 19.00 saya duduk di sebelah ibu dan tamu-tamu berbincang engan ibu, tiba-tiba ibu berkata kepada saya “De mak pabuan” ada tamu yang tanya apa tahu artinya? langsung beliau (ibu) bilang be nawang. Saya berdiri jalan ke rumah utara, masuk kamar maksud saya mau tanya suami apa artinya ternyata Bli Pudja menemui tamu di teras timur.

Sambil berdoa dalam hati saya intip dari celah korden apa yang ibu lakukan, ternyata ibu mengambil tempat pembuangan ludah sehabis makan sirih. Keluar dari kamar saya ke jalan utara, diatas meja ada tempat sirih sambil membawa tempat sirih saya berdoa mudah-mudahan ini benar. Biar saya tidak mengecewakan ibu juga saya tidak malu. Dengan sedikit bimbang, saya haturkan ibu tempat sirih tadi, rupanya Dewi Fortuna berpihak kepada saya ternyata ibu tersenyum apalagi tamu-tamu bilang sudah pintar bahasa Bali ibupun menjawab mula be duweg.

Sejak kejadian tadi, saya bilang ke suami jangan jauh-jauh duduk biar sewaktu-waktu saya bisa tanya kalau ada hal-hal yang tidak saya mengerti. Itulah salah satu pengalaman lucu sekaligus memalukan (kalau salah bagi saya). Sebenarnya banyak kenangan saya bersama ibu di Bondalem. Yang saya ungkapkan ini Cuma sebagian kecil dan amat sangat berkesan buat saya pribadi.

Kalau semua cucu ibu menulis tentang nininya yang sangat dermawan pasda siapapun, saya amat sangat setuju. Sering ibu memberi uang pada orang yang katanya pinjam, walau nantinya tidak kembali. Malah ada yang sampai 1 tahun lebih baru dikembalikan dan ibu sudah lupa kalau orang itu berhutang pada ibu. Pulangnya uang yang untuk membayar hutang oleh ibu diberikan untuk bekal pulang. Ini saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Dalam hati saya bertanya bisakah saya seperti ibu ? Tiada manusia yang sempurna.

Ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada hitam ada putih, Tuhan menciptakan di dunia ini berpasang-pasangan, begitu juga mertuaku-ibuku. Walau Cuma setitik ada juga kejelekan ibu, kalau marah atau ada sesuatu hal yang tidak berkenan, kata mo’ong mesti ada di sela-sela marah ibu. Saya tidak begitu tahu sekali arti kata mo’ong tapi saya pernah ucapkan ini tanpa sengaja di kumpulan keluarga Bali (Surabaya), dan teman dekat saya menyatakan jangan bicara begitu (kasar, saya tertegun  waktu itu).

Suamiku bekerja di PTP XXIV – XXV dan sering pindah-pindah pabrik  Gula (PG). Yang pertama di P.G Wringin Anom / Situbondo selama 7 Tahun dan dua kali pindah rumah. Yang pertama di muka tenis-band /dekat kantor, yang kedua di pinggir jalan raya. Dan di dua rumah tersebut Dan di dua rumah tersebut Aji dan Ibu pernah menginap 5 – 10 hari. Lalu pindah ke P.G Prajekan (Bondowoso) 2 tahun. Ibu dan cucu- cucu dari Denpasar serta Bli dan Mbak Ngurah juga pernah melali. Bli Pudja training di Philipina 1 tahun lebih dan keliling P.G se Indonesia 1 tahun. Praktis di rumah P. G hanya saya , anak-anak dan pembantu.

Tahun 1982 SK pindah ke Proyek Gula (Pro-La/Takalar/Sul-Sel), ibupun pernah melali ke Ujung Pandang. Waktu itu saya sebagai isteri karyawan Pro-La sering pergi ke rumah-rumah karyawan non staff untuk menenangkan isteri-isterinya yang tidak kerasan. Kebetulan di samping rumah saya tanami pohan undis dan bisa tumbuh subur. Ibu dan cucu-cucunya panen undis muda dan buat sayur undis serta bubur mengguh.

Ibu yang meracik bumbunya, Yosi yang menghaluskan, Swam marut kelapa, Roni mengupas bawang dan kesume sedang si bungsu (Cece) duduk manis. Pulang dari keliling rumah-rumah karyawan sudah sore. Anak-anak bilang ma, nini masak sayur undis dan bubur mengguh. Enak mama tinggal makan, kita dan Nini yang buat ini kata Swam anakku yang paling usil dan bikin ramai rumah.

Kenangan yang indah sekali bagiku. Tiba waktunya ibu pulang ke Bali, maunya Bli Pudja mengantar ibu pulang ke Denpasar, tapi namanya proyek tidak ada kata libur kalau tidak cuti tahunan itupun dibatasi. Jadilah ibu yang waktu itu sudah berusia 70 tahun pulang sendiri naik pesawat ke Bali. Hebatnya mertuaku-ibuku ini.

apernah juga ke Pabrik Gula Kedawung dengan Dik Kosala suami dik Atiek. Dua tahun di Pabrik Gula Kedawung dipindah ke Pabrik Gula Wonolangan Atiek. Dua tahun di Pabrik Gula Kedawung dipindah ke Pabrik Gula Wonolangan / Probolinggo. Ibupun robolinggo. Ibupun tidak absen  nengok anak dan cucu-cucunya kalau tidak salah ingat dengan dik Atiek. Bli Pudja waktu itu kursus KMP / kursus manajer perusahaan di Yogya 3 bulan.

Rumah dinas Pabrik Gula untuk staff apalagi untuk pimpinannya tidak ada yang kecil. Besar, halaman luas maklum bekas rumah orang Belanda. Kami dapat pembantu dan tukang kebun dari perusahaan. Lagi-lagi di Wonolangan ibu panen kacang tanah di belakang rumah. Hanya 2 tahun Bli Pudja di pindah ke kantor direksi Jl. Merak I Surabaya sebagai kepala bidang Agronomi. Ibupun sampai dua kali di rumah Surabaya lalu kita ke Yogya main di rumah dik Surya Dharma yang waktu itu tinggal di Yogya.

Jadi setiap pindah rumah / kota  ibu pasti pernah menjenguk kami anak, cucu-cucu beliau. Bangganya hati ini dapat perhatian berlebih dari ibu. Pernah salah satu iparku tanya” mengapa ibu betah kalau melali ke rumah (Pabrik Gula) saya jawab, nggak tahu Cuma mungkin saya tidak pernah melarang ibu mau apa, masak panen hasil halaman rumah, jalan-jalan seputar komplek atau Cuma di rumah dengan cucu-cucu beliau sepulang sekolah dan cerita-cerita. Jadi mungkin ibu merasa seperti di rumah Bondalem yang kebetulan perumahan Pabrik Gula memang sepi, bersih dan tenang suasananya.

Sebagai penutup kesan saya pada mertuaku-ibuku, ada kata-kata beliau yang mungkinkah saya bisa seperti ibu ? Waktu itu siang hari, hari dan tanggal saya lupa tapi ingat tahunnya 1995, kami (ibu dan saya) duduk-duduk di muka rumah Bondalem. Ibu bicara, tentu saja dengan bahasa Bali. Dan dalam coretan penaku ini saya tulis dengan bahasa Indonesia tanpa mengurangi artinya. “De, biar ibu kurang suka atau tidak suka dengan menantu, tapi ibu tetap merestui dan mendoakan kebahagiaan anak-anak ibu. Karena anak-anak ibu sendiri yang akan menjalaninya. Dan sekarang setelah anak-anakku semua telah berumah tangga baru bisa kujiwai arti kata-kata ibu ini.

Dapatkah saya seperti mu ibu ? Semoga anak, anak mantu, cucu, cucu menantu dan cicit-cicit beliau semua dapat meneladani semangat dan sifat ibu yang polos, dermawan dan pantang menyerah. SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-100 IBU, Semoga kesehatan dan Kebahagiaan selalu menyertaimu.

Surabaya, 7 April 2010

Suhardiani

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mertuaku (Ni Kompiang Made Tresni Geria Mendala)

  1. jus berkata:

    Pak Puja dan Bu Puja sekeluarga adalah sahabat keluarga dan menjadi panutan kehidupan keluarga kami dengan kesederhanaannya.
    Semoga selalu sehat dan diberi kebahagiaan/kesejahteraan

    • guzrah berkata:

      Terima kasih Jus atas comment nya… Iya walaupun saya baru ‘kembali’ ke keluarga Pudja thn 1984 dan akhirnya merantau sendirian di makassar tahun 1987 tapi memang saya rasakan sendiri ‘perbedaan’ didikan alamarhum bapak angkat/pak de saya dengan keluarga Pudja…
      Dari mulai merasa sbg anak tunggal hingga akhirnya dihadapkan pd kenyataan bahwa saya mempunyai 3 org adik he3x..
      But.. Itulah proses pendewasaan buat saya … Tiap org punya jalan hidupnya sendiri… Kita sbg manusia hanya bisa berusaha menjadi yg terbaik bagi diri kita sendiri, keluarga dan masyarakat..
      Tul ngga he3x..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s