HOW TO AVOID THE COMFORT ZONE

(BAGAIMANA MENGHINDARI ZONA NYAMAN?)

Yamaha berencana untuk meluncurkan mobil yang akan dijual mulai tahun 2019.
Orang-orang mulai bertanya, mengapa Yamaha harus membuat mobil?
Bukankah mereka sudah “enak” jualan sepeda motor, sudah menjadi salah satu market leader. Bukankah sepeda motor adalah strength Yamaha?
Mengapa harus memasuki area baru (“mobil”) di mana mereka belum berpengalaman?
Apakah Yamaha tidak takut berkompetisi melawan pemain-pemain yang sudah lebih lama bermain di “mobil”?

Teman saya , sebut saja namanya David, tadinya adalah Direktur di sebuah bank ternama dari Amerika. Setelah 3 tahun berada di posisi itu, dia memutuskan untuk mengundurkan diri dan pindah ke perusahaan lain di Indonesia yang bergerak di industry lain.
Teman-temannya pun bertanya,” What were you thinking? Why are you doing this?”
Bukankah David sudah terbiasa dengan banking industry? Bukankah hubungannya dengan boss nya sangat baik? Bukankah David juga sudah membangun tim yang kompak dan sayang sama dia?
Mengapa David harus melakukan itu?
Mengapa David harus memasuki industry baru yang dia belum berpengalaman?
Bukankah David harus belajar lagi dari awal tentang consumer good industry? Mengapa?

Yang dilakukan oleh Yamaha dan David sama. Mereka menolak memasuki zona nyaman (comfort zone)?

Kenapa?
Karena Yamaha ingin maju terus (semboyan Yamaha adalah “moving forward”).
Semboyan David adalah “A Promotion every 3 years, inside or outside”.
David selalu mendapat promosi setiap 3 tahun. Kalau dia tidak mendapat promosi di dalam perusahaannya, David akan mencari promosi di perusahaan lain (dengan responsibility yang lebih besar dan salary yang lebih tinggi).
Ada kesamaan di antara Yamaha dan David. Mereka ingin maju (progress).
Padahal seringkali progress tidak bisa berjalan bersama dengan nyaman (comfort).
Jadi Yamaha tahu bahwa memasuki arena “mobil” pasti tidak akan comfortable.
David tahu memasuki industry baru pasti tidak akan comfortable.
Harus bekerja keras untuk mempelajari hal hal yang baru dan menyesuaikan diri (berubah) lagi.
But if you want to progress, there is no other choice.
Itulah kenapa Yamaha selalu berhasil “moving forward” dan David selalu berhasil mendapatkan promosinya setiap tiga tahun (inside or outside).

Dunia berubah begitu cepat. Kita harus berubah dan menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi.
Learning agility menjadi skills yang paling penting saat ini.
Sebaiknya anda Melengkapi competence anda dengan competence lain atau melengkapi pengalaman anda di industry yang berbeda.
Yamaha tidak ingin mengulang nasib Kodak (yang dulunya jagoan photography), Nokia (jagoan handphone) atau Xerox (jagoan photocopy).
Mereka semua dulunya sangat jagoan, kemudian mereka memasuki dunia nyaman, dan kemudian sangat lamban, untuk melakukan perubahan, akhirnya yang mereka hadapi adalah kebangkrutan dan kehancuran.

Dalam karier anda, jangan sampai Anda menjadi seperti insinyur sipil yang dulunya kehujanan proyek, tetapi saat krisis moneter menganggur semua.
Anda tidak ingin menjadi insinyur perminyakan, yang dulunya digaji puluhan (atau ratusan juta) rupiah per bulan, tetapi kemudian menangis kebingungan pada saat harga minyak jatuh.
Have a Plan B!
Take charge of your life.Take charge of your carier.
Kontrol hidup anda dan karier anda sendiri.
Jangan membiarkan orang lain, boss anda, perusahaan anda, krisis moneter, harga minyak atau apapun mengontrol hidup anda.
Take charge of your life.
Be professional. Berkontribusilah secara maximum pada perusahaan anda.
Tetapi anda harus mempunyai rencana cadangan, plan B, contingency plan.
Supaya apapun yang terjadi dengan lingkungan anda, perusahaan anda, macro economy, globalization atau apapun yang terjadi anda harus survive.

Semoga anda tidak menangis pada saat krisis moneter terjadi (lagi). Semoga anda tidak hanya meratap dan mengharap agar harga minyak naik lagi.
Semoga anda selalu bersiap-siap, dan apapun yang terjadi, anda mampu mengantisipasinya.
Dan untuk itu anda harus melengkapi portfolio anda, mempunyai learning agility dan mampu menyesuaikan d

iri dengan perubahan and continue to survive in any condition.

Coba gambar satu lingkaran kecil, namanya discomfort zone. Di luarnya gambar lingkaran yang sedikit lebih besar, namanya comfort zone (zona nyaman). Kemudian di luarnya lagi, lebih besar lagi, gambar lingkaran yang paling besar namanya panic zone.

Intinya pada saat kita memulai sebuah karier (atau pekerjaan baru di tempat yang baru), kita selalu berada di lingkaran terkecil di dalam, discomfort zone. Kita belum comfortable. Mari kita namakan zona ini learning zone. Karena kita memang belum menguasai semua pengetahuan, skills, process, policy, culture, way of working di tempat yang baru.
Akan perlu beberapa lama untuk kemudian anda akan belajar dan menguasai semua itu.
Setelah itu anda mulai merasa comfortable (nyaman) menjalankan pekerjaan anda dan mencapai objective anda.
Anda akan berada di sana untuk beberapa waktu. Tapi jangan terlalu lama. Karena memang anda mau tidak mau harus keluar dari zona itu.
Kalau anda terlalu lama di situ, anda akan complacent (lengah) dan akibatnya sebelum anda menyadarai tiba-tiba performance anda menurun, performance perusahaan anjlok, harga minyak jatuh, macro economy sulit atau apapun yang membuat anda terlempar dari zona nyaman dan kemudian tanpa anda sadari anda sudah berada di panic zone. Marilah kita namakan zona ini disaster zone (zona celaka, zona bencana).
(Catatan , ada yang menggambar zona-zona itu dengan urutan yang berbeda, tapi menurut saya 3 lingkaran di atas tadi mudah dimengerti).
Dan by the way, teori 3 zona itu berlaku bagi individu (karier anda) maupun perusahaan (bisnis). zona.
Comfort zone, discomfort zone, dan panic zone.
Intinya kalau anda sudah memasuki comfort zone, anda harus segera menolak terlalu lama di comfort zone itu dan segera pergi ke discomfort zone.
Kalau anda tidak segera keluar dari comfort zone (berarti tidak segera memasuki discomfort zone), lama lama anda akan memasuki panic zone (disaster zone) karena sudah terlambat.
Dan pada saat anda di panic zone, tidak lama anda akan terdepak keluar dari lingkaran-lingkaran itu (dari perusahaan anda, dari bisnis anda, dari industry anda).
This is about survival. Your survival for your career, your life and your family.
Don’t jinx it!

Apa yang seharusnya anda lakukan.
Dari lingkaran kecil (learning zone) pelan pelan anda akan bergerak ke comfort zone. Then perform and contribute your best for the company!
Pada saat anda sudah agak lama di zona comfort (dan waktunya berapa tahun itu sangat tergantung kepada jenis pekerjaan, tingginya posisi dan level of complexity), jangan terlalu lama stay di situ, mulailah kembali ke learning zone (discomfort zone) dengan mempelajari bidang yang baru. Never stop learning!
Itu satu-satunya cara agar anda tidak terdepak ke zona disaster (zona celaka).
Ingat itu!

Jadi bagaimana pada prakteknya cara-cara menghindari comfort zone?

1. IDENTIFY THE BEST, LEARN FROM THE BEST

Pada saat anda masih di learning zone, identify the best talents in the organization. You can accelerate your learning from them. Mereka sudah terbukti perform di organisasi itu . Learn from them. Sambil menawarkan apabila ada yang anda bisa bantu ke mereka. Be Humble. You are the new kid in the block. Jangan sombong. Anda yang harus belajar.

2. DO YOUR BEST. GIVE YOUR BEST. PERFORM AT YOUR BEST. CONTRIBUTE AT THE MAXIMUM LEVEL.

Be professional. Bekerjalah sekeras mungkin. Perform and excel in your job.
Remember ERI (Effort, Result, Impact).
Pada akhirnya anda harus menghasilkan Impact (business impact dari pekerjaan anda).
Tapi kalau ternyata memerlukan waktu, ya at least tunjukkan Result.
Kalau belum bisa menunjukkan Result ya Effort (anda harus menunjukkan usaha anda).
Pada akhirnya hanya Impact yang akan dilihat. But it may take time. Jadi tunjukkan dulu Effort, setelah itu Result, setelah itu Impact.

3. KEEP WATCHING. KEEP OBSERVING.

Sambil perform at your best, tetaplah melihat, mengamati dan menganalisa.
Apa yang terjadi di perusahaan anda (financial report). Apa yang terjadi di industry anda. Apa yang terjadi secara macro econom

y. Apa yang terjadi dalam dunia global.
Be prepared to adjust , be prepared to change, be prepared to adapt.

4. KEEP LEARNING. KEEP STUDYING
Terus meneruslah belajar. Setiap hari adalah learning journey.
Belajar untuk:
– membuat anda semakin pintar dalam bidang anda
– membuat anda mengerti konteks business yang lebih luas
– membuat anda menguasai bidang baru yang sebelumnya tidak anda mengerti
(Yamaha harus belajar tentang mobil karena sebelumnya bermain di segment sepeda motor.
David harus belajar tentang consumer goods, padahal sebelumnya di banking).

5. BUILD YOUR NETWORK. MAINTAIN YOUR NETWORK. EXPAND YOUR NETWORK.

Dari Network anda, anda bisa belajar lebih banyak dan mendapatkan informasi yang anda butuhkan sehingga analisa anda lebih akurat. Network juga bisa menjadi jalur yang akan menyelamatkan hidup anda seandainya anda di ujung jurang (sebelum terdepak keluar dari disaster zone).
Build your network. Maintain your network. Expand your network.
But remember, the key of networking is not only whay you can get or receive from others, tetapi bagaimana anda memberi dan membantu orang lain.

Jadi ingat 5 hal yang mungkin akan menyelamatkan anda di masa depan:

1. Learn from the Best

2. Perform at your maximum level

3. Keep Observing

4. Keep Learning

5. Expand your network

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto – with Gusti Ngurah, 4J3N6, and Made

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s