Istriku mengeluh bahwa aku tidak lagi bisa diajak bicara, tidak mau tahu dengan urusan rumah, mau seenaknya sendiri, dan dia begitu marah.

Suatu saat, kubuatkan kejutan manis baginya, kuajak dia pergi ke restoran indah; aku berharap bisa melewati malam menyenangkan dengannya.

“Buat apa kamu melakukan hal ini? Aku nggak perlu beginian. Bukannya berhemat supaya bisa bayar tagihan..” Dan istriku terus mengomel.

Kemudian aku coba membersihkan rumah.. “Kalau aku sudah marah-marah, kamu baru membantu bereskan rumah. Nggak ada inisiatif sama sekali!”

Terkadang aku bingung, mengapa di kantor begitu mudah mengatur ini dan itu, tapi di rumah, banyak hal yang kulakukan, salah di mata istriku.

Ada saja para istri yang membingungkan suaminya dengan mengkomunikasikan perasaan yang salah dimengerti.

Ketika kelelahan, bukannya beristirahat, ia melampiaskan kelelahannya dengan bentuk keluhan yang menjengkelkan bagi suaminya.

Ketika suami berusaha baik; ia bukannya menghargai usaha suaminya namun menutupi rasa gembira itu dengan meributkan hal lain.

Sering suami-istri berkomunikasi “salah”; rasa lelah dilampiaskan tidak pada tempatnya…

Rasa senang ditutupi dengan gengsi; meributkan banyak hal hanya untuk mendapat perhatian.

Berkomunikasilah secara positif; berbicara baik, mengucap terimakasih, memuji pasanganmu, menghapus asumsi yang tidak-tidak.

Terlalu banyak menuntut ini dan itu; aturan ini dan itu.. Itulah yang perlahan-lahan mematikan keinginan pasanganmu berbicara denganmu.

Mulanya ia malas bicara, ia hanya tidak ingin ribut denganmu. Namun lama-kelamaan, ia belajar menyimpan rahasia karena kau sudah tak nyaman lagi diajak bicara. – with Gusti Ngurah

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s