Walaka I Putu Setia, Mantan Wartawan Tempo :
*Memahami Siwa Ratri dengan Baik*…

Siwa Ratri, malam pemujaan Siwa, akan datang hari Kamis nanti. Ada baiknya kita menyambut “Malam Siwa” dengan pemahaman yang lebih benar, tidak berdasarkan gugon tuwon (kebiasaan) selama ini. Malam tergelap sepanjang tahun dalam kepercayaan Hindu, pangelong 14 Sasih Kepitu itu umat Hindu wajib melakukan puasa total yang meliputi upawasa, monabrata, dan jagra.

Orang sering menyebutnya “malam peleburan dosa”, seolah-olah dosa yang kita lakukan berhari-hari dan berbulan-bulan menjadi lebur hanya karena begadang semalam suntuk. Ini cara pemahaman yang keliru karena dosa tak bisa dilebur hanya dengan begadang, dosa hanya bisa diperbaiki dengan melakukan karma baik. Karena adanya pemahaman yang keliru ini, maka banyak orang yang hanya sekadar begadang. Pura didatangi, mekemit semalam suntuk sambil ngobrol dan makan-makan.

Bagaimana kita bisa melakukan monabrata (tidak berbicara) kalau asyik ngobrol? Memang yang paling mudah dari ketiga brata hari Siwa Ratri ini adalah jagra. Namun tanpa memahami maknanya karena kita asyik ngobrol bahkan tentang sesuatu yang mungkin jorok. Atau begadang sambil berjudi. Yang terakhir ini justru menambah dosa. Jagra yang dimaksudkan di sini adalah kita awas, eling, dan merenungi kehidupan ini untuk selalu diperbaiki kesalahannya.

Siwa Ratri sesungguhnya datang setiap bulan. Setiap pengelong 14 (sehari sebelum Tilem) adalah malamnya Siwa. Itu saat-saat terbaik untuk melakukan puasa. Sedangkan pengelong 14 Sasih Kepitu adalah malam tergelap setiap tahun, dan ini disebut Maha Siwa Ratri. Kata “maha” sudah menunjukkan bahwa ini Siwa Ratri yang lebih khusus karena yang paling besar. Umat Hindu di Nusantara, tentunya termasuk di Bali, hanya merayakan Siwa Ratri yang “maha” ini. Sedang Siwa Ratri setiap bulan dilewatkan begitu saja.

Kita tak bisa menyalahkan anak-anak muda Hindu yang mondar-mandir di jalan selesai melakukan persembahyangan, karena niat mereka itu sebenarnya bagus, bagaimana melewatkan “Malam Siwa” dengan jagra. Hanya karena tidak tahu caranya, tidak ada yang mengarahkan, maka mereka keluyuran begitu saja. Hal ini terjadi di kota-kota besar seperti Denpasar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selesai bersembahyang di Pura Jagatnatha, remaja Hindu itu keluyuran dengan sepeda motor. Bagi yang tidak membawa motor, mereka bergerombol duduk di lapangan Puputan Badung.

Sedikit sekali institusi atau lembaga atau organisasi yang mengambil inisiatif untuk merancang kegiatan yang mengisi pencerahan. Katakanlah misalnya meditasi massal, atau agni hotra, atau pembacaan ayat-ayat suci Weda melengkapi persembahyangan di pura. Atau mungkin dharmatula dalam lingkaran-lingkaran kecil — agar tidak ngobrol hal-hal yang bertentangan dengan agama — sementara pada jam-jam tertentu (katakanlah tengah malam) berhenti sejenak untuk melantunkan mantra suci ke hadapan Siwa. Kita bisa melakukan ini dengan mudah sekarang, karena lewat internet sudah banyak aplikasi mantram yang bisa di-down load untuk Siwa Ratri ini. Anak-anak muda Hindu itu sesungguhnya mudah untuk digiring sepanjang ada yang mengkordinir dengan baik.

Dengan format yang lebih ideal merayakan Siwa Ratri kita tak akan dibelenggu oleh legenda Lubdhaka yang selama ini selalu menjadi mitos dalam Siwa Ratri. Bahwa kisah Lubdhaka dijadikan acuan memang bagus dan kita tak usah mencari-cari acuan yang lainnya. Namun yang perlu kita ketahui, Lubdhaka itu hanyalah simbol. Simbol-simbol ini harus dikupas artinya, tak bisa “dihafalkan” sebagai sebuah cerita biasa.

Kita di Bali agak malas mengupas simbol-simbol yang sudah diberikan leluhur kita di masa lalu. Orang dengan mudahnya menyebutkan, dosa yang kita lakukan berhari-hari akan ditebus dengan jagra (tidak tidur) pada “Malam Siwa”, bukankah Lubdhaka yang kerjanya berburu saja bisa mendapatkan sorga hanya dengan begadang satu malam? Kalau begitu, mudah sekali orang memperoleh sorga, pegawai percetakan di koran, satpam yang kerjanya malam-malam, semua masuk sorga.

Lubdhaka harus dicerna sebagai simbol orang yang gemar berburu dalam arti kias, bisa berburu materi yang tak ada puasnya, berburu jabatan yang tak kunjung diraih, berburu kesenangan yang tak ada ujung, berburu ilmu yang tak kunjung dibagi. Para pemburu ini pada suatu hari pasti akan tersesat “di rimba yang menakutkan” dan dia tak akan bisa keluar dari “ketakutan” itu jika ia tidak melakukan perenungan. Ia harus membebaskan dirinya dari “nafsu berburu” untuk mencapai kesadaran. Simbol-simbol ini yang harus dikupas. Makanya, mari kita coba dari sekarang, bagaimana menjadi Lubdhaka yang sadar bahwa ada suatu saat di mana kita harus membebaskan diri kita dari nafsu berburu itu.

Anggapan bahwa Siwa Ratri adalah malam peleburan dosa karena naskah yang ditulis sejarawan Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka yang menyebutkan Mpu Tanakung penulis Kekawin Lubdhaka hanya mencari muka kepada Raja Ken Arok. Sejarah menyebutkan, Ken Arok menjadi raja setelah membunuh Tunggul Ametung. Mpu Tanakung yang hidup di masa itu lalu menulis Kekawin Lubdaka yang intinya dosa bisa dilebur. Dengan kekawin ini Mpu Tanakung mau cari muka bahwa dosa Ken Arok bisa dilebur di hari Siwa Ratri.

Namun belakangan dua ahli sejarah Jawa terkenal, Dr. Petrus Josephus Zoetmulder dan Andries Teeuw, membantah naskah Poerbatjaraka dalam bukunya berjudul Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung. Buku ini baru terbit 1969 sementara perayaan Siwa Ratri yang dipopulerkan di Indonesia sudah dimulai setelah 1965. Malam peleburan dosa itu dijadikan “obat penyejuk” pasca tragedi G 30 S/PKI yang pasti banyak menimbulkan dosa.

Bantahan Zoetmulder dan Teeuw ini disertai penelitian bahwa Ken Arok, Raja Singhasari, meninggal dunia pada tahun 1247, sementara Mpu Tanakung menulis Kekawin Lubdaka pada zaman Majapahit akhir (1466-1478). Selain itu, sebagai seorang pendeta, Mpu Tanakung tak mungkin mencari muka pada raja. Dua ahli ini lalu berkesimpulan, Mpu Tanakung memang pendeta cerdas yang menulis Kekawin Lubdhaka berdasarkan kitab-kitab dari India karena banyak ada persamaan dengan kisah-kisah suci di India. Hanya saja Mpu Tanakung mengadopsi kearifan lokal dalam menggubah kekawin yang simbolis itu.

Karena itu mari kita dudukkan kisah Lubdhaka sebagai ajaran yang penuh simbol dan perlu kita kupas isinya, sehingga tidak serta merta Siwa Ratri dijadikan malam peleburan dosa yang begitu sederhana. (*)
👍👍👍🙏🙏

Selamat pagi ss terkasih, Rahajeng nyangra rahinan Pagerwesi 😇😇🙏🙏🙏 – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s