Copas dr sebelah
ॐ साई राम
Candi Cetho; Geliat Reruntuhan Peradaban Hindu

Ditengah kesunyian lereng Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, pada ketinggian 140 cm di atas permukaan laut. Terdapat sebuah reruntuhan yang biasa disebut Candi Cetho. Keberadaan kompleks candi Cetho ini, pertama kali dilaporkan oleh Van de Vlis pada tahun 1842. Hingga saat ini, candi Cetho selain sebagai tempat wisata masih digunakan sebagai tempat persembahyangan dan samadi oleh masyarakt sekitar yang memang mayoritas beragama Hindu. Selain umat Hindu, candi Cetho juga menjadi tempat penting bagi masyarakat Kejawen sebagai tempat samadi.
Para peneliti Candi Cetho memperkirakan, kompleks candi ini dibangun pada abad ke-15. Pendapat ini didasarkan pada angka tahun yang terdapat pada prasasti dinding gapura teras VII yang berhuruf Jawa Kuna.
”Peling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku.1397 (terj : Peringatan pembuatan buku tirta sunya badannya hilang. Tahun saka wiku goh hanaut iku. (tahun saka1397/ 1475 M)
Candi Cetho (Ceto = jelas, jernih tanpa halangan) merupakan sebuah candi peninggalan budaya Hindu dari abad ke-14 pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Para peneliti meyakini bahwa Candi Cetho dibangun pada masa pemerintahan Prabhu Brawijaya V, raja Majapahit yang terakhir. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya arca Prabhu Brawijaya dan juga kedua abdi setianya yang bernama Sabdopalon dan Noyogenggong pada teras-teras candi. Prabu Brawijaya V merupakan tokoh yang sangat kontroversial, karena pada saat pemerintahan beliaulah terjadi keruntuhan kerajaan majapahit. Peralihan dari Hinduisme menuju Islamisasi di nusantara. demikian banyak karya sastra jawa yang mengisahkan akhir dari kerajaan Majapahit, Di antaranya adalah teks Dharmagandul dan Babad Tanah Jawi. Adapun isi ringkasnya sebagai berikut.
Kisah keruntuhan Majapahit dan bergesernya agama Hindu digantikan islam sekitar tahun 1400 saka (Sirna Ilang Kertaning Bhumi), dimulai ketika prabu Brawijaya V mengambil seorang putri campa yang berdarah cina dan beragama islam. Ketidak setujuan permaisuri terhadap kehadiran putri Campa membuat putri campa harus dikeluarkan dari lingkungan kerajaan Majapahit. Dalam kondisi hamil, akhirnya putri campa diserahkan kepada arya Damar (raja Palembang) untuk dijadikan istri, namun dengan syarat tidak boleh disentuh sebelum anak dalam kandungan itu lahir.
Setelah putra itu lahir, kemudian diberi nama Raden Patah (nama cinanya adalah Jim Bun). Dari arya Damar, putri campa juga melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Husein. Setelah dewasa, Raden patah berkeinginan untuk kembali ke Majapahit. Dalam perjalanannya, akhirnya Raden Patah menuju Ampel Denta, disana akhirnya ia dikawinkan dengan cucu dari Sunan Ampel. Atas petunjuk Sunan Ampel, akhirnya Raden Patah diperintahkan untuk membuka lahan hutan Bintara, yang lama-kelamaan mejadi ramai.
Atas dukungan para Walisongo dan ulama, kemudian dideklarasikan mejadi kerajaan Islam yang bernama Demak Bintoro. Mendengar tentang keberadaan Demak Bintoro, Raja Brawijaya yang mengetahui bahwa yang menjadi rajanya adalah Raden Patah yang tiada lain adalah anaknya, kemudian memerintahkannya agar menghadap. Namun atas nasehat para Wali Songo, Raden patah tidak diijinkan menghadap, karena Raja Brawijaya adalah seorang kafir. Tidak selayaknya seorang muslim tunduk kepada raja kafir. Pada saat walisongo mengetahui kondisi kerajaan Majapahit yang sedang lemah, mereka bersama para pendukungnya berkumpul untuk merencanakan pengambilalihan kekuasaan.
Raden Patah pada dasarnya menolak rencana kudeta kepada ayahnya (Prabu Brawijaya), namun Walisongo meyakinkan bahwa semuanya adalah benar ’tidak salah membunuh ayah yang kafir dan pasti mendapatkan sorga’. Sebenarnya Prabhu Brawijaya mengetahui rencana kudeta Raden Patah, sehingga hatinya menjadi hancur. Tidak sepantasnyalah berperang melawan anaknya sendiri. Dengan hati yang hancur, Prabhu Brawijayapun mengambil keputusan untuk mengosongkan Keraton Majapahit, sehingga tidak perlu menumpahkan darah dengan berperang melawan anaknya sendiri. Beliau kemudian diiringi oleh abdinya Sabdopalon-Noyogenggong, menuju Pulau Bali.
Keadaan ini tentunya memudahkan Raden Patah (Jim Bun) dengan Walisongo untuk mengambil kekuasaan Majapahit, dengan penuh sukaria mereka akhirnya memproklamirkan kerajaan Demak Bintoro menjadi penguasa tanah Jawa. Setelah menguasai majapahit, Raden Patah kemudian menghadap Nyai Ageng Ampel (istri Sunan Giri). Mengetahui cerita dari Raden Patah, meyebabkan Nyai Ageng Ampel marah, dengan menjelaskan kesalahan-kesalahan Raden Patah. Hal ini tergambar dari kata-kata beliau, yaitu :
“Êngger! aku arêp takon mênyang kowe, kandhaa satêmêne, bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?” Sang Prabu banjur matur, yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Kang ngideni para Sunan. Mulane nagara Majapahit dirusak, amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam, isih ngagêm agama kapir kupur, Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk. Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun, banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha, kowe iku dosa têlung prakara, mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe, sarta sing aweh nugraha marang kowe, dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe, kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Yen Gusti Allah wis marêngake, ora susah ngango dikon, wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. Gusti Allah kang sipat rahman, ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe.
Artinya :
Nak…! aku mau tanya kepadamu, bicara dengan jujur. Siapa ayahmu itu ? siapa yang mengangkat kamu menjadi raja di tanah Jawa ? siapa yang memberi ijin kamu ? apa sebabnya kamu menyiksa orang tak berdosa. Raden Patah kemudian bicara, kalau Prabu Brawijaya adalah ayahnya, yang mengagkat menjadi raja membawahi tanah Jawa adalah Bhupati pesisir. Yang mengijinkan adalah para Sunan. Makanya Kerajaan Majapahit dirusak, sebab sang Prabhu Brawijaya tidak mau bersalin beragama Islam, masih beragama kafir. Nyai Ageng setelah mendengar jawaban dari Prabu Jimbun, kemudian menjerit dan memeluk, dan berkata :’Nak.. kamu tahu, kamu mempunyai tiga dosa, mesti kena kutuk dari gusti Allah. Kamu berani memusuhi raja yang sebenarnya adalah orang tuamu, serta yang memberikan kamu nugraha. Mengapa kamu berani merusak yang tidak mempunyai dosa. Adanya Islam dan kafir, siapa yang membuat, selain hanya satu gusti Allah. Orang berganti agama itu, tidak dapat dipaksa, kalau belum keluar dari hati nuraninya sendiri. Orang yang berpegang teguh pada agamanya sampai meninggal, itu adalah utama.
Mendengar kata-kata dari Nyai Ageng Ampel, akhirnya Raden Patah menyadari kesalahannya. Kemudian mengutus Sunan Kalijaga untuk mencari keberadaan Prabhu Brawijaya, agar mau menjadi raja kembali. Hingga akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan Prabhu Brawijaya, kemudian dibujuk agar mau kembali ke Majapahit dan berpindah agama menjadi Islam. Setelah mengeluarkan kemarahan, dan cinta kasih kepada putranya (Raden Patah) akhirnya Prabhu Brawijaya bersedia, dan mengucapkan kalimat Syahadat. Setelah merubah agamanya menjadi Islam, kemudian sang Prabhu meminta nasehat dari Sabdopalon-Noyogenggong dan juga agar bersedia menjadi Islam.
Sabdopalon-Noyogenggong kemudian menegaskan, bahwa sebagai Danghyang tanah Jawi tidak bersedia menjadi Islam. Dengan panjang lebar Sabdopalon-Noyogenggong menjelaskan tentang esensi dari Islam dan keutamaan agama Hindu-Budha. Sabdopalon-Noyogenggongpun marah, karena raja tidak meminta nasehatnya dahulu sebelum mau berpindah agama. Prabhu Brawijayapun menyesal karena mau berganti agama, tapi apa mau dikata, seorang raja tidak mungkin menjilat ludah yang telah dikeluarkannya. Akhirnya Sunan Kalijaga bersama Prabhu Brawijaya berangkat menuju Majapahit, sedangkan Sabdopalon-Noyogenggong hilang tanpa bekas. Demikianlah ringkasan kisah dari serat Dharmagandul.
Ada satu hal yang menarik berkaitan dengan jumlah teras atau trap (undak-undak) di Candi Cetho. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah menyebutkan, kompleks candi Cetho memiliki 13 teras, namun berdasarkan penelitian Van Der Vlis maupun A.J. Bernet Kempers, kompleks Candi Cetho sebenarnya terdiri 14 teras. Namun kenyataannya pada saat ini hanya terdiri dari tigabelas teras yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan makin kebelakang makin tinggi dan dianggap paling suci. Teras berundak di candi Cetho mengingatkan pada susunan alam semesta menurut Siwa Siddhanta yang berjumlah 14 juga.
Pada akhir tahun1970-an candi Cetho dipugar oleh Humardani (spiritualis) yang merupakan asisten pribadi presiden Suharto. Pemugaran banyak mengubah struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Kegiatan pemugaran yang tidak sesuai kaidah arkeologi tersebut sengaja dicantumkan papan informasi pelataran awal Candi Cetho. Hal ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa bentuk bangunan candi Cetho yang sekarang tidak lagi sama persis dengan aslinya.
Hasil ”pemugaran” pada akhir tahun 1970 bersama bangunan-bangunan pendapa dari kayu. Sangat disayangkan ”pemugaran” atau lebih tepatnya pembangunan oleh ”seseorang” terhadap candi Cetha ini tidak memperhatikan konsep arkeologi sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Pemugaran yang dilakukan hanya pada sembilan teras saja, teras berundak masih tetap dipertahankan keasliannya (punden berundak), sehingga masih nampak jelas kebudayaan asli nusantara masih mewarnai namun tetap dalam semangat kehinduan. Trap-trap tersebut adalah :
1. Trap pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. 2. Trap kedua masih berupa halaman namun ditrap ini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur masyarakat Ceto. 3. Pada trap ketiga terdapat sebuah ornamen memanjang di atas tanah menggambarkan kura-kura raksasa, surya majapahit (lambang kerajaan), phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang lebih dari 2 m. Kura-kura adalah simbol penyagga alam semesta sedangkan Phalus merupakan simbol penciptaan manusia. 4. Pada trap keempat dapat ditemui relief pendek yang merupakan cuplikan kisah Sudhamala, yaitu kisah tentang usaha manusia untuk melepaskan diri dari malapetaka. Relief Sudama candi Ceto sebagai sumber pembelajaran agama Hindu terbagi menjadi 5 bagian, yaitu :
• Relief pertama, di bagian kiri dilukiskan seorang ksatria muda Sadewa saudara kembar Nakula, keduanya putra Pandu dari Dewi Madrim adik perempuan Narasoma. Madrim meninggal dunia dunia ketika keduanya masih bayi. Dewi Kunti istri Pandu yang lain, mengasuh kedua saudara kembar ini dan bersama dengan ketiga putranya, Puntadewa, Bima dan Arjuna. Kelimanya kelas disebut Pandawa atau lima putra Pandu. Relief di sini melukiskan Sadewa yang tenah berjongkok diikuti seorang Punakawan (abdi pengiring). Berhadapan dengan ksatria ini seorang tokoh perempuan yaitu Betari Durga yang juga disertai seorang Punakawan.
• Relief kedua, dilukiskan Betari Durga berubah menjadi seorang raseksi (raksasa perempuan) yang berwajah ganas dan menakutkan, dua orang raksasa berwajah seram, Kalantaka dan Kalanjaya menyertai Betari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa yang terikat pada sebatang pohon dengan pedang. Di bagian ini tergambar kepala tanpa badan, potongan tangan manusia. Tampaknya merupakan gambaran di hutan Setro Gondomayit, tempat pembuangan para dewa yang diusir dari nirwana karena pelanggaran.
• Relief ketiga, pada bagian ini dilukiskan Sadewa bersama Punakawan pengiringnya berhadapan dengan seorang dewi bersama seorang petapa buta.
• Relief keempat, adegan disebuah petamanan yang sri di mana Sadewa tengah bercengkerama dengan sang dewi dan petapa buta serta seorang Punakawan.
• Relief kelima, adegan kekuatan antara Bima, kakak Sadewa melawan kedua raksasa bala tentara Betari Durga, Kalantaka dan Kalanjaya. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa tengah mengangkat kedua raksasa untuk dibunuh dengan kuku pancanakanya. Dalam Mahabarata, bima putra kedua Pandu dari Dewi Kunti dikenal sebagai ksatria yang berkemauan keras, jujur, bertenaga raksasa namun suka membantu yang lemah. (Swarno Asmadi, Haryono Sumadi, 2004 : 16)
5.Pada trap kelima dan keenam terdapat pendapa-pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut masih sering digunakan sebagai tempat melangsungkan upacara-upacara besar keagamaan.
6. Trap ketujuh dapat ditemui dua buah arca di samping kanan kiri yang merupakan arca Sabdopalon dan Nayagenggong, dua orang abdhi dari Sang Prabu Brawijaya yang juga merupakan penasehat spiritual dari beliau. Hal ini melambangkan kedekatan jiwa beliau dengan rakyatnya yang diwakili kedua tokoh tersebut.
7. Pada trap kedelapan, bagian kiri terdapat sebuah Lingga dan arca Sang Prabu Brawijaya yang digambarkan sebagai “Mahadewa”. Lingga merupakan simbol kesuburan yang melimpah atas bumi Ceto dan sebuah pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kesuburan yang dilimpahkan tidak terputus selamanya. Arca Sang Prabu Brawijaya menunjukkan penauladanan masyarakat terhadap kepemimpinan beliau, sebagai raja yang bèrbudi bawa leksana, yang diyakini pula sebagai utusan Tuhan di muka bumi.
8. Trap terakhir (trap kesembilan) adalah trap utama yang merupakan tempat pemanjatan doa kepada Penguasa Semesta yang berbentuk kubus berukuran 1,50 m2. Di sebelah atas bangunan Candi Ceto terdapat sebuah bangunan berbentuk meru dengan sebuah mata air. Pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual (patirtan). Pada tahun 2005 Bupati Karanganyar (Rina Iriani Sri Ratnaningsih) melakukan kerjasama dengan Bupati Gianyar (A.A Gde Agung) dalam rangka pengembangan pariwisata. Bupati Gianyar akhirnya memberikan sumbangan patung Saraswati yang diletakkan di atas candi Cetho (Taman Saraswati). Walaupun masih dilandasi nilai ekonomi, setidaknya ini menjadi awal ‘geliat bangunnya candi Cetho dari tidur panjangnya’. Secara perlahan, Hindu telah menancapkan kembali tonggaknya di tanah Jawa. Bagi masyarakat Hindu, ini merupakan napak tilas kebesaran Hindu masa lalu, kembali memberikan cahaya penerang bagi kehidupan manusia.
Ngenteg Linggih Candi Cetho
Pada tahun 2007 sebuah kisah haru telah terjadi, dengan dilaksanakannya upacara Panca Wali Krama Nusantara dan sekaligus Ngenteg Linggih di Candi Cetho. Ribuan umat Hindu berkumpul untuk menjadi saksi kebangkitan candi Cetho sebagai kahyangan Jagat sekaligus menghaturkan bhakti. Tiada lagi batas kedaerahan bagi umat Hindu, berkumpul, bersatu, untuk mengikuti upacara Panca Wali Krama Tersebut. Mungkin tanah jawa tengah berbisik ‘selamat datang kembali, dari perjalanan panjangmu (Hindu), mari tancapkan kembali peradaban luhur Hindu’. Seperti halnya tersirat dalam serat Dharmagandul, yang merupakan ucapan terakhir Sabdo Palon Noyo Genggong kepada prabu Brawijaya V :
Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa. Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar. Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.
Artinya :
Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya (Sabdo Palon Noyo Genggong). Namun Sang Prabu (Brawijaya V) kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Kawruh Budi, saya sebar keseluruh tanah Jawa. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan Kawruh Budi. Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi. – with Gusti Ngurah

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s