Baratayuda adalah sebuah peperangan besar dalam dunia Pewayangan, yang merupakan perang saudara Keluarga Barata antara Pandawa dan Kurawa yang masih terhitung saudara sepupu.

Perang ini dianggap sebagai perang antara Kebaikan melawan Kejahatan,dimana Pandawa berada dipihak yang benar dan Kurawa dipihak yang jahat, ada juga yang mengatakan perang ini sebagai wujud dari Kejahatan yang dhancurkan oleh Kebaikan. Perang ini dipicu oleh Perebutan kekuasaan Kerajaan Hastinapura antara Kurawa dan Pandawa yg sebenarnaya kerajaan itu merupakan hak dari Pandawa namun direbut oleh Kurawa.

Perang yang berlangsung 18 hari ini boleh dikatakan perang yang sangat kejam,banyak ksatria yang gugur dalam perang ini, bahkan hanya ada 10 ksatria yang mampu bertahan hidup dari ratusan bahkan ribuan ksatria yang ikut dalam perang. Sepuluh orang yang bertahan hidup adalah dari pihak Pandawa ada Pandawa 5 (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa), Kresna, Setyaki, dan Yuyutsuh. Dari pihak Kurawa adalah Kartamarma, Aswatama, dan Krepa.

Namun dibalik itu semua, Baratayuda tidak semata-mata perang saudara dan perang kebaikan melawan kejahatan, tapi juga sebagai ajang Menuntaskan Janji,Sumpah, dan Karma bagi para Ksatria baik yang terlibat langsung dalam perang maupun yang tidak terlibat langsung. Bahkan menuai kutuk bagi Sri Batara Kresna yang merupakan titisan Batara Wisnu.

Tidak semua yang terlibat dalam perang yang berada di pihak Kurawa adalah orang jahat,beberapa ksatria di pihak Kurawa merupakan ksatria yang baik dan bijaksana,salah satunya adalah Bhisma/Dewabrata. Ksatria-ksatria ini berada di pihak Kurawa karena terikat janji dan sumpahnya yg pernah diucapkan jauh sebelum Baratayuda berlangsung.

Beberapa contoh Ksatria yang menuntaskan janji,sumpah, dan karmanya di Baratayuda adalah :

Yang pertama Bhisma atau Dewabrata, dia adalah Kakek sekaligus Guru bagi Pandawa dan Kurawa. Beliau adalah orang yg paling berhak atas tahta Hastinapura yang menjadi rebutan Kurawa dan Pandawa. Bhisma lebih menyukai sifat Pandawa yang selalu membela kebenaran, namun beliau saat Baratayuda berada di pihak Kurawa dikarenakan beliau sudah berjanji akan membela Hastinapura, negeri tempat kelahiranya, negeri yg telah memberi beliau kehidupan. Beliau berperang bukan untuk membela kejahatan, tapi untuk menepati janji membela Hastinapura yang berperang melawan Pandawa.

Selain guna memenuhi janji, Bhisma juga menuntaskan karmanya disini, karma yang berupa kutukan Dewi Amba yg pernah Beliau bunuh meski tidak dengan sengaja. Sebelum Dewi Amba menghembuskan nafas terakhirnya, dia berdoa kepada Dewa agar dia menjadi penyebab kematian Bhisma, dan itu terjadi ketika Baratayuda, Dewi Amba menitis ke Srikandi dan Srikandilah yang mampu mengalahkan Bhisma dan Bhisma menghembuskan nafas terakhirnya di hari terakhir perang.

Ksatria lainya yang menuntaskan janji,sumpah, dan karmanya di Baratayuda adalah Adipati Karna/ Basukarna. Karna adalah kakak satu ibu dari Pandawa, Karna adalah anak dari Dewi Kunti dengan Batara Surya yg begitu lahir langsung dibuang kesungai oleh Dewi Kunti untuk menutupi aib, dan Karna diasuh oleh kusir kereta kerajaan Hastinapura bernama Adirata.

Alasan Karna berperang dipihak Kurawa adalah untuk memenuhi janjinya dan balas budi kepada Kurawa yang telah mengangkat derajatnya dari anak seorang kusir menjadi seorang Adipati di Awangga, dimana disaat itu Pandawa mencela dan mengejeknya. Bahkan Duryudana, Kurawa tertua merelakan calon istrinya yaitu Surtikanti dibawa lari dan dinikahi oleh Karna. Dia tetap teguh pada pendirianya berperang dipihak kurawa meski sebelum masuk ke medan laga Dewi Kunti memberitahukan bahwa Karna adalah kakak dari Pandawa.

Karma Adipati Karna pun tuntas diperang ini. Karna tewas oleh Arjuna, pada saat berhadapan dengan Arjuna,roda kereta perang Karna terperosok kedalam lubang,saat sedang berusaha mengeluarkan roda kereta tersebut, Arjuna melepaskan Panah Pasopatinya,saat itu juga Karna berusaha mengeluarkan kesaktian yang pernah diajarkan Ramabargawa kepadanya,tp seketika itu dia lupa segala apa yag pernah diajarkan, akhirnya Panah Pasopati Arjuna memenggal kepala Karna. Kejadian itu merupakan karma dari apa yang telah Karna perbuat, roda kereta perang yang terperosok adalah akibat kutukan seorang Brahmana yang sapinya pernah ditabrak oleh kereta kuda Karna, namun Karna tidak meminta maaf dan tidak mengganti sapi yang ditabraknya. Brahmana itu mengutuk pada saat Karna berperang menentukan antara hidup dan matinya, roda keretanya akan terperosok dan menyebabkan kematianya. Kemudian kejadian saat Adipati Karna lupa segala kesaktian yang pernah diajarkan Ramabargawa kepadanya adalah kutukan dari Ramabargawa sendiri, karena Karna berbohong kepada Ramabargawa saat berguru kepadanya, saat itu Karna menyamar menjadi Brahmana muda untuk diterima menjadi murid Ramabargawa, karena Ramabargawa tidak menerima murid dari bangsa Ksatria.

Dari pihak Pandawa ada Gatotkaca dan Abimanyu yang juga menuntaskan karma yg harus mereka terima karena perbuatan yang mereka lakukan dan sumpah yang mereka ucapkan. Gatotkaca tewas lewat perantara arwah pamanya Kalabendana yang menangkap dan melemparkan senjata Konta yang hampir saja tidak bisa menjangkau Gatotkaca, Kalabendana sebelumnya tewas ditangan Gatotkaca. Sedangkan Abimanyu tewas dengan puluhan senjata menancap ditubuhnya, sesuai dengan sumpahnya saat melamar Dewi Utari. Abimanyu bersumpah jika ia sudah menikah sebelum menikah dengan Dewi Utari,maka ia akan tewas dengan puluhan senjata menancap ditubuhnya, padahal saat menikah dengan Dewi Utari,Abimanyu telah menikah dengan Dewi Siti Sundari, Putri Sri Batara Kresna.

Selain Ksatria yang terlibat langsung dalam perang,ada pula Ksatria yang menuntaskan karmanya karena berlangsungnya Baratayuda, yaitu Prabu Destarastra, beliau adala ayah para Kurawa, dalam Baratayuda beliau harus kehilangan seratus anaknya, hal ini sesuai dengan karmanya karena Prabu Destarastra pernah membunuh seratus ekor burung yang tak berdosa dengan Ajian Lebur Saketi yang dia miliki.

Baratayuda ini juga menuai kutuk bagi seorang titisan Batara Wisnu, yaitu Sri Batara Kresna. Setelah perang berakhir, Kresna mendapat kutukan dari Dewi Gendari, ibu para Kurawa. Kresna dikutuk bahwa keturunanya dan Wangsa/dinastinya akan musnah karena perang saudara karena sebagai titisan Batara Wisnu dia tidak bisa mencegah perang saudara itu, bahkan Kresna harus menerima karma dari apa yg dilakukan titisan Batara Wisnu sebelum dia, yaitu Ramawijaya. Kresna tewas oleh panah seorang pemburu yg merupakan titisan Subali yang mati dipanah oleh Ramawijaya. – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s