“Kisah Anjing Tua”

Ada seekor anjing tua yang hidup di sebuah pemukiman perumahan. Hidupnya sebatang kara dan hanya makan minum dari apa yang ia temui di jalanan.
Mungkin sisa-sisa makanan manusia atau apapun yang sekiranya dapat menghidupinya.
Saat siang hari ia akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur di sebuah halaman rumah kosong dibalik rimbunan semak-semak yang teduh dan pada malam harinya menyusuri pemukiman mencari sesuatu yang bisa dimakan. Namun bukanlah satu-satunya yang ia lakukan, tak jarang ia akan bersikap waspada dan menggonggong memberikan peringatan jika ada pencuri yang berniat buruk pada salah satu rumah di pemukiman itu.
Benar… anjing tua itu membantu manusia di sekitarnya menjaga lingkungan saat malam hari sehingga terjaga ketentramannya dari gangguan para pencuri.

Tapi sayang, orang-orang justru menganggap anjing tua ini sebagai sesuatu yang meresahkan, gonggongannya berisik dan keberadaannya dianggap membahayakan anak-anak kecil di lingkungan itu.
Padahal anjing tua itu tak melakukan kesalahan apapun, bahkan saat orang melemparinya dengan batu dan meludahinya anjing itu pun hanya terdiam. Rasanya ia cukup tau diri untuk tidak melawan sesuatu yang tak mungkin dapat ia menangkan.

Berbulan-bulan anjing tua itu diperlakukan hina namun ia tetap membalasnya dengan kesetiaan untuk tetap menjaga lingkungan tersebut. Hingga suatu hari ia ditemukan tak bernyawa di semak-semak halaman sebuah rumah kosong tempat ia biasa tidur. Tapi bukan itu yang membuat heran, ternyata ia mati di sisi sahabatnya yang sudah berwujud tulang belulang. Hal itu juga yang membuat anjing tua selama ini tetap bertahan di lingkungan tersebut meskipun siksaan dan hinaan selalu menghampirinya.

Begitulah cinta dan kesetiaan seekor anjing yang seharusnya mudah untuk dipahami.
Mereka tak pernah membenci manusia, tapi manusialah yang membenci mereka.
Hanya perlu diingat bahwa yang dibenci ini juga makhluk ciptaan Tuhan.
Dan bagaimana mungkin kita mampu mencintai Tuhan yang tak kelihatan jika kita tak mampu mencintai makhluk ciptaan Nya yang mudah sekali untuk dilihat wujudnya ?
Bagaimana Tuhan akan mengasihi kita jika kita tidak mampu mengasihi sesama makhluk Nya?
Selayaknya kita mengasihi mereka sama seperti Tuhan yang selalu memelihara dan mengasihi kita.

Mereka ada di sekitar kita, di kolong-kolong jembatan, jalanan, rumah kosong atau di tumpukan sampah. Jika tidak bisa berbuat baik pada makhluk-Nya setidaknya jangan merendahkan atau menyakitinya. – with Gusti Ngurah

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s