GUGURLAH GATOTKACA DEMI ARJUNA

Sungguh mengerikan senjata Konta, hadiah dari Dewa Indra kepada Raden Karna yang telah ikhlas melepas baju dan anting saktinya. Senjata itu sanggup membunuh siapa pun, namun hanya bisa digunakan satu kali. Senjata ini mengancam hidup Arjuna bila bertempur melawan Karna.

Maka berbisiklah Sri Khrisna pada Gatotkaca untuk mengorbankan diri di ujung senjata konta, demi keselamatan Arjuna dan kemenangan Pandawa.

Gatotkaca, ksatria perkasa tak tertandingi, keturunan manusia (Bima) dan raksasa (Arimbi), berusaha memancing kemarahan Karna hingga melepas konta atas permintaan Duryudana. Gugurlah sang ksatria demi hidup Sang Arjuna dan pasukan Pandawa.

Rsi Wyasa menyentuh dadanya sembari berbicara lembut.

“Gatotkaca adalah harga diri seseorang. Harga diri yang muncul dari penyatuan sifat manusia dan raksasa dalam diri. Harga diri sungguh sebuah sifat teguh yang tak akan mudah diijinkan hancur oleh siapa pun. Ketika ia tersentuh, maka manusia akan memunculkan sifat raksasanya.”

“Kalau saja Gatotkaca tidak mengorbankan diri di ujung senjata Karna, maka Arjunalah yang akan gugur. Kalau saja seseorang tidak mengorbankan harga dirinya di ujung kata-kata yang datang dari telinga, maka pikiran (Arjuna) akan mati akal. Saat pikiran mati akal, gelap oleh kemarahan harga diri, di situlah emosi seseorang akan menjadi tak terkendali. Ia terlukai, terkalahkan hanya oleh kata-kata yang tajam dari telinganya.”

“Maka kapan saja terdengar kata-kata tajam yang bisa melumpuhkan kekuatan dan kebijaksanaan pikiranmu, ikhlaslah korbankan harga diri demi menjaga pikiran tetap tenang dan waspada.”

Tersenyum Rsi Wyasa dengan penuh arti. – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s