ABIMANYU, KEBERANIAN YANG MATI OLEH JEBAKAN

Bahkan sejak masih ada dalam rahim ibunya, Dewi Utari, jabang bayi yang kelak diberi nama Abimanyu, sudah dapat mendengarkan percakapan antara ibu dan ayahnya.

Ia bisa menguping pembicaraan Arjuna yang sedang mengajari Subadra tentang suatu formasi mematikan yang sulit ditembus bernama Cakrabyuha. Setelah Arjuna selesai membahas cara memasuki Cakrabyuha, akhirnya Subadra tertidur, sehingga Abimanyu tidak memiliki kesempatan untuk tahu bagaimana cara meloloskan diri dari formasi itu.

Maka begitulah, di usia 16 tahun, dalam perang besar Bharatayuda, Abimanyu yang perkasa akhirnya tergiring memasuki formasi ciptaan Rsi Drona itu namun gagal keluar dari pusatnya. Ia gugur karena dikeroyok oleh semua ksatria utama dari Korawa.

Rsi Wyasa meneruskan dengan suara lembut namun tegas.

“Berhati-hatilah bila engkau seorang wanita yang sedang mengandung bayi. Setiap pikiran dan perasaanmu akan terdengar oleh bayimu dan berpengaruh pada perkembangannya.”

“Bila kau seorang Ayah, berhati-hatilah pada setiap kata-kata, sikap dan tindakan yang kau tunjukkan pada istrimu yang sedang hamil. Sebab itu akan berpengaruh pada tabiat bayimu.”

“Abimanyu adalah simbol tabiat yang berani. Abhi (berani) dan Man’yu (tabiat). Kematian Abimanyu terjadi karena jebakan formasi Cakrabyuha (labirin). Maka bila kau memiliki tabiat seorang pemberani, selalulah waspada terhadap jebakan yang memancing keberanianmu untuk menunjukkan diri.”

“Sebab keberanian yang terjebak dan berubah menjadi nekat yang membabi buta, akan menyulitkanmu keluar dari kemelut (cakrabyuha) yang kau masuki sendiri.”

“Hati-hatilah dalam segala bentuk aspek kehidupan duniawi yang kau masuki hanya berbekal keberanian yang membabi buta. Bila berani memasuki masalah namun tidak mengerti jalan keluar dari belitan masalah yang mungkin terjadi, maka segala hal yang terlibat dalam kemelut itu akan menghancurkan kekuatanmu.”

“Begitu pun bila kau berani melibatkan diri dalam permasalahan orang lain. Selalu siapkan diri untuk tidak menyalahkan siapa pun bila kau tersedot dalam pusaran masalah itu dan sulit keluar dari kemelutnya.”

Rsi Wyasa menatap dengan mata teduh namun menyimpan pesan mendalam dari pancarannya yang tajam. – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s