KEBAIKAN KARNA ADALAH KELEMAHANNYA

Kehidupan Karna sesungguhnya diwarnai banyak penderitaan sejak kecil. Di buang oleh Ibu Kunti ke aliran deras sungai Aswa hingga hanyut oleh gelombangnya.

Diangkat anak oleh seorang kusir, hingga ia kehilangan pengakuan atas wangsa ksatrianya. Maka dengan itu ia kerap dicemooh oleh para ksatria. Tidak diijinkan belajar bersama para pangeran Hastina.

Namun ia sungguh dermawan terutama kepada para fakir miskin dan brahmana. Apa pun yang diminta dari dirinya akan diberikan. Inilah kebaikannya yang kelak menjadi sumber kelemahannya.

Ketika Dewa Indra menyamar menjadi brahmana dan meminta baju dan anting pelindung yang diberkahkan Dewa Surya sejak ia kecil, ia pun memberikannya. Sejak itu kekuatannya hilang.

Ketika Kunti memintanya untuk mengalah pada Arjuna, ia pun menyanggupi bahwa Pandawa akan tetap berjumlah lima usai perang besar Bharatayuda. Kebaikan itulah kelemahannya.

“Kenapa putra sebaik Karna mesti diceritakan dengan peran kehidupan setragis itu?”

Dengan tenang Rsi Wyasa menghadirkan pesannya melalui Karna.

“Setiap telinga sejak kecil akan dilatih untuk hanyut dan menyatu dalam gelombang suara, seperti Karna hanyut dalam gelombang aliran sungai Aswa. Telinga juga sejak kecil dijauhkan dari ibunya (tubuh), sehingga lebih banyak mendengar suara di luar diri daripada suara dalam dirinya. Sebab begitulah cara telinga berperan sebagai anak kusir, yang mengantarkan kata-kata dari sumbernya dengan sama utuh (Adirata) sampai kepada pendengarnya.”

“Sedermawan Karna, begitulah telinga yang baik akan memberikan apa yang ingin didengar oleh mereka yang membutuhkannya (fakir miskin). Kebaikan telinga ini akan bisa menjadi masalah bagi pemiliknya. Haus akan kata-kata pujian, pengakuan dan penghormatan, bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kehancuran.”

“Arjuna (pikiran) tak akan mudah mengalahkan apa yang datang dari telinga (Karna). Sebab di dalam diri, suara dari Karna akan disambut penuh suka cita oleh ratusan pembenaran ego negatif (Korawa), terutama bila itu adalah kata-kata pujian dan rayuan.”

“Hanya bila Dewa Indra hadir sebagai brahmana untuk meminta baju dan anting Karna, itu akan melemahkannya. Hanya bila seluruh inderamu yang lain waspada, lalu mewujud sebagai kewaspadaan dan kebijaksanaan (brahmana), saat itu kau akan bisa menelanjangi dengan tenang setiap kata-kata pujian, pengakuan, penghormatan yang mungkin sesungguhnya adalah kalimat-kalimat tipu daya yang berbungkus kebaikan.”

Sebelum beranjak pergi, Rsi Wyasa mengelus lembut kepala sembari berbisik;

“Waspadai setiap kata-kata pujian, pengakuan dan penghormatan yang didengar telingamu (Karna). Sebab ia bisa mengalahkan keteguhan akal pikiranmu (Arjuna), hingga berkuasalah ego-ego negatif (Korawa) dalam dirimu.” – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s