Hari Purnama, Nangkil ke Pura Segara Rupek (Piodalan).

Pura Segara Rupek termasuk sering saya jadikan tujuan untuk berTirta Yatra baik secara pribadi bersama keluarga ataupun dengan para karyawan dan sahabat semasa masih tinggal di Denpasar.
Biasanya kami berangkat jam 19.00 wita dari Denpasar sampai di pura sekitar jam 23.30 wita.
Cukup Jauh perjalanan ke Pura Segara Rupek namun jika dilakukan dengan ketulusan dan kerinduan terhadap Ida Betara maka tidak akan menjadi masalah yang berarti.

Pura Segara Rupek terletak di ujung barat pulau Bali tepatnya diselat laut tersempit antara pulau Jawa dan Pulau Bali, berseberangan dengan Pantai Watu Dodol yang ada di Banyuwangi.
Pura ini masih berada dalam wilayah Kabupaten Buleleng tepatnya desa Sumber Kelampok Kecamatan Gerokgak.

Jika kita akan melakukan perjalanan nangkil ke Pura Segara Rupek saya anjurkan untuk memeriksa kendaraan yang akan digunakan karena jalan masuk ke pura dari jalan utama Singaraja – Gilimanuk anda akan melalui jalan geladak alias jalan bebatuan mungkin seperti dasar jalan sebelum diaspal, jarak tempuh sebenarnya dekat hanya 16 km namun karena jalannya bebatuan maka anda dapat menempuh perjalanan masuk hutan menuju Pura kurang lebih satu setengah jam perjalanan, namun rasa bosan anda akan terobati jika anda melakukan perjalanan pagi – sore hari karena di dalam perjalanan anda akan dihibur oleh pemandangan alami binatang hutan seperti Babi Hutan, ayam hutan, Rusa, Babon/ Lutung dll dan juga pemandangan laut selat Bali, pelabuhan Ketapang serta hilir mudik Kapal Ferri di selat Bali.
Di areal parkir pura yg luas dan dibiarkan alamipun anda akan kembali di hibur oleh pemandangan indah dan binatang hutan yang ada disekitar pura.
Oh iya terakhir saya tangkil ke pura ini tahun 2015 sudah ada pelepas liaran Burung Jalak Bali disekitar pura, kicauannya yang merdu.sungguh menambah indah dan alami suasana di Pura Segara Rupek.

Ngiring Nangkil ke Pura Segara Rupek Pintu Gerbang Ajeg Bali.

Semoga bermanfaat, salam Rahayu
Kadek Yudhi Arya. 10 Mei 2017

****************************

Menjaga Bali dari Segara Rupek

TAK banyak yang tahu, ujung terjauh Bali di bagian barat bukanlah di Gilimanuk, melainkan di Segara Rupek. Dalam peta Pulau Bali, lokasi Segara Rupek ini tepat berada di ujung hidung Pulau Bali. Ini termasuk wilayah Kabupaten Buleleng. Dari sinilah sesungguhnya jarak dekat antara Bali dengan Jawa dan di sinilah secara historis menurut sumber-sumber susastra-babad, kisah pemisahan Bali dengan Jawa dimulai, sehingga Bali menjadi satu pulau yang utuh dan unik.

Bisa dimengerti apabila tak banyak orang tahu betapa penting dan strategis keberadaan Segara Rupek bagi Bali. Untuk mencapai Segara Rupek relatif tidak mudah, bila hendak menempuh jalan darat satu-satunya jalan yang bisa ditempuh mesti melewati jalan menuju ke Pura Prapat Agung dan dari lokasi Pura Prapat Agung ini masih harus dilanjutkan lagi menempuh perjalanan darat sekitar 5 km menelusuri hutan lindung Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Kondisi sarana, prasarana dan infrastruktur yang belum memadai demikian kiranya turut pula mempengaruhi Segara Rupek tidak mendapat perhatian semestinya, baik dari kalangan tokoh masyarakat Bali, bahkan juga dari kalangan pemimpin di Bali. Di Segara Rupek hingga kini belum ada pelinggih sebagai tonggak atas suratan sejarah, padahal lokasi ini jelas-jelas menjadi babakan dan tonggak penting dalam sejarah Bali.

Berdasarkan sumber susastra maupun berdasarkan keyakinan spiritual, saya menemukan bahwa lokasi Segara Rupek sudah sepatutnya diperhatikan sekaligus di-upahayu. Yang ada sejauh ini masih kurang layak. Menurut lontar Babad Arya Bang Pinatih, Empu Sidi Mantra beryoga semadi memohon kerahayuan seisi jagat kehadapan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Baruna Geni, Danghyang Sidimantra dititahkan untuk menggoreskan tongkat beliau tiga kali ke tanah, tepat di daerah ceking geting. Akibat goresan itu air laut pun terguncang, bergerak membelah bumi maka daratan Bali dan tanah Jawa yang semula satu itu pun terpisah oleh lautan, lautan itu dinamakan Selat Bali.

Guna lebih mempertebal rasa bakti sesuai dengan sumber susastra, dan ikut juga mayadnya ngastitiang kerahayuan jagat Bali, bahkan seluruh wilayah Indonesia maka: ngatahun awehana uti; nista, madya, utama ayu jawa pulina mwang banten bali pulina suci linggih dewa, paripurna nusantara. Artinya: setahun sekali dilakukan upacara pakelem, banten dirgayusa bumi, tawur gentuh pada hari Anggara Umanis, Wuku Uye.

*I Nyoman Laba/ Balipost – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

Iklan

Tentang guzrah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Juni Putra dari pasangan Ir. Djelantik (11 Sepetember 1932 s/d 16 Nopember 1979) dan Ketut Nicky Saka BA(24 September 1940 s/d 4 Oktober 1983) pada masa kecilnya Ngurah dibesarkan di Surabaya karena Ayah angkatnya adalah seorang dosen Arsitektur di ITS. sekolah TK di Dharmahusada, SDN Jagiran I (sekarang Pacarkeling VII) dan SMPN 6 Sby, tahun 1984 melanjutkan sekolah dan lulus di SMPN I Dps, SMUN I di Ujung Pandang, kuliah di Universitas Hasanuddin Mks dan Universitas Narotama Sby..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s