– with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

Iklan
| Meninggalkan komentar

– with Gusti Ngurah

View on Path

| Meninggalkan komentar

Belakangan ini aksesoris dari biji Rudraksha banyak digunakan, terutama oleh warga Hindu. Mulai dari bentuk kalung, gelang, anting hingga gantungan kunci. Tidak hanya kalangan orang-orang yang menekuni spiritual, kalangan masyarakat biasa pun tertarik menggunakannya.

Menurut mitologinya, Dewa Siwa bertapa hingga 1000 tahun dewa hingga berhasil menciptakan pohon Rudraksha. Konon, biji Rudraksha berasal dari air mata Rudra atau Dewa Siwa. Oleh karena itu, Rudraksha dipercaya penuh dengan berkah Dewa Siwa, sehingga bisa mendatangkan berbagai manfaat, seperti kesehatan, kedamaian, kemuliaan, hingga pencapaian kebebasan sejati atau Moksa, bagi yang menggunakan serta yakin akan kekuatannya.

Dalam Siwa Purana dijelaskan tentang tiga material penting dalam memuja Siwa, yakni abu suci, Rudraksha, dan daun Bilwa. Oleh karena itu, Rudraksha memiliki makna yang sangat penting bagi orang-orang yang memuja Tuhan dalam manifestasi sebagai Siwa.

Rudraksha atau Ganitri yang bernama latin Elaeocarpus Ganitrus, merupakan pohon yang berbatang keras yang biasa hidup di iklim tropis. Daunnya kecil memanjang serta berwarna unik, yakni hijau ketika muda dan menjadi merah ketika menua. Buahnya yang masak akan berwarna ungu atau biru tua. Nah, biji buahnya yang berpola uniklah yang biasa digunakan sebagai japamala (tasbih) dan aksesoris tertentu.

Menurut salah satu pembuat aksesoris dari Rudraksha, Made Sujana Djapa yang akrab disapa De Japa, ada sekitar 200 jenis Rudraksha. Di antara sekian banyaknya, yang memiliki kualitas super salah satunya adalah Medana. “Satu kalung harganya hingga Rp 20 jutaan,” ujarnya, Jumat 928/10) kemarin. Harga melambung tersebut karena biji Rudraksha yang digunakan dengan kualitas terbaik.

Lebih lanjut, pria yang tinggal di kawasan Ubung, Denpasar tersebut, mengatakan, Rudraksha terkenal berasal dari India dan Nepal. Namun, di Indonesia ada juga daerah penghasil Rudraksha. “Di Jawa pusatnya di Kebumen. Selain itu, ada pula di Bali, Timor, Papua, Sulawesi, dan daerah lainnya,” ujarnya. Bahkan, salah satu yang diburu karena bentuknya yang besar adalah yang berasal dari Papua. “Ukurannya bisa lebih besar dari telur angsa,” ungkapnya.

Uniknya, pada biji Rudraksha ternyata terdapat garis yang khas atau dikenal dengan istilah “Mukhi”. Beda jumlah Mukhi, beda pula khasiatnya. Jumlah Mukhi pun tidak sedikit, yakni mulai dari Mukhi satu hingga 38, bahkan bisa lebih. Di antara Mukhi tersebut, Mukhi satu dan 21 adalah yang paling diminati. De Japa mengatakan, yang cukup diminati di Bali khususnya adalah Mukhi 7 yang dipercaya mendapat anugerah Dewi Laksmi, sebagai Dewi Kemakmuran. “Biasanya dicari oleh orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang,” ujarnya. Di samping itu, para ibu-ibu dikatakan senang mencari Mukhi 9 karena dipercaya mendapat anugerah Dewi Dhurga.

Berdasarkan jumlah Mukhi, Rudraksha punya fungsi berbeda, yakni Mukhi 1 (Siwa) untuk kebahagiaan dan pembebasan (moksa), Mukhi 2 (Siwa-Parwati) untuk keharmonisan, kedamaian, serta terpenuhi segala keinginan, Mukhi 3 (Agni) untuk keselamatan dan spiritual, Mukhi 4 (Brahma) untuk kecerdasan dan kreativitas, Mukhi 5 (Panca Brahma) untuk peleburan dosa, Mukhi 6 (Karttikeya) untuk ketenaran, Mukhi 7 (Lakshmi) untuk kesehatan dan kesejahteraan, Mukhi 8 (Ganesha) panjang usia, kekuatan, dan kebijaksanaan. Selanjutnya Mukhi 9 (Durga) untuk kasih sayang dan keberanian, Mukhi 10 (Wisnu) untuk kedamaian dan perlindungan dari musuh serta ular berbisa, Mukhi 11 (Rudra) untuk mendapat kejayaan dan kemenangan, Mukhi 12 (Raditya) untuk kehormatan dan ketenaran, Mukhi 13 (Kamadewa) untuk mencapai berbagai keinginan dan keberuntungan, Mukhii 14 (Siwa) untuk mengaktifkan mata ketiga serta dibimbing oleh Siwa, Mukhi 15 (Pasupati), untuk menajamkan intuisi dan memperoleh ide. Sementara untuk kedamaian dan keselamatan dari berbagai macam gangguan adalah Mukhi 16 (Rama), Mukhi 17 (Wiswakarma) untuk kreativitas yang berhubungan dengan property, Mukhi 18 (Pertiwi), untuk keselamatan dan kesehatan para wanita, terutama yang sedang hamil, Mukhi 19 (Narayana), untuk perlindungan dan kesejahteraan, Mukhi 20 (Brahma), untuk kecerdasan dan kretivitas, Mukhi 21 (Kuwera) untuk kemakmuran serta keberuntungan.

Selain itu, terdapat pula Mukhi lainnya dengan nama dan khasiat tertentu. Bahkan, ada bentuk-bentuk yang unik dengan nama tertentu, seperti Garb Shankar yang berguna untuk mendatangkan keturunan, dipakai oleh ibu-ibu. Selanjutnya, ada Ghauri Shankar yang berguna untuk keharmonisan keluarga, serta bentuk Ganesha yang berguna untuk perlindungan dan kebijaksanaan. Guna meningkatkan energinya, setiap Mukhi memiliki mantra tersendiri.

De Japa menambahkan,yang sedang diminati saat ini adalah m Mukhi 1, karena melambangkan Siwa. Bentuknya pun unik, yakni seperti bulan sabit. Sementara itu, Mukhi 21 sulit didapat. “Satu pohon bisa 40 tahun sekali baru muncul,” ujar De Japa yang sudah mengoleksi hingga Mukhi 30.

Selain itu, De Japa mengatakan, Rudraksha tidak perlu melalui proses pasupati (penghidupan secara gaib), karena sudah secara alami memiliki energi dari alam. Dengan memegang biji Rudraksha secara lembut, maka bisa dirasakan ada getaran bioelektrik. “Energi inilah yang mempengaruhi jantung dan otak,” jelasnya. Namun, bagi yang ingin menambah keyakinannya, prosesi pasupati juga tidak dilarang.

De Japa yang memulai membuat aksesoris dari Rudraksha sejak tahun 2000, sudah terbiasa melakukan japa. Sembari merangkai kalung, ia melakukan japa atau penyebutan nama suci Tuhan secara berulang-ulang. “Ada ketenangan dan kenyamanan yang saya peroleh dari hal itu,” ungkapnya. Satu rangkaian kalung, Japa diakuinya harganya beragam. Ia yang mengutamakan kualitas dalam pembuatannya, menjual satu kalung dengan jumlah 108 butir Rudraksha mulai dari harga di atas Rp 100 ribu.

De Japa mengatakan, jika digunakan sebagai kalung, ada ukuran khusus. “Untuk panjang, sebaiknya saat digunakan, untaiannya tidak melewati pusar,” jelasnya. Hal tersebut menurutnya demi kenyamanan si pemakai. Di samping itu, menurut ajaran Agama Hindu, dari bagian pusar ke bawah kerap terlibat dalam kegiatan yang kotor.

Selain itu, De Japa juga mengingatkan saat ini ada Rudraksha palsu yang beredar. “Ada yang palsu, bahannya plastik dan terkadang sangat mirip dengan aslinya,” jelasnya. Menurutnya yang kerap dipalsukan adalah Mukhi langka yang harganya tinggi. Mengenai cara pembedaannya, ia mengatakan agak susah. “Kalau dibongkar dan dibelah, barulah biasanya kita bisa tahu keasliannya. Tapi itu kan tidak mungkin,” terangnya. Oleh karena itu, ia menyarankan agar masyarakat benar-benar jeli mengenali Rudraksha. Bagi yang sudah terbiasa dengan Rudraksha, ia mengatakan bisa mengenali kualitasnya dari suaranya saja. “Kalau digesekkan, ada suara yang khas. Selain itu, kalau direndam dalam air, akan tenggelam. Pertanda bahwa kualitasnya bagus – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar

Dasa Nyama (Niyama) Bratha adalah 10 bagian dari prilaku yang baik subha karma yang terdiri dari :
Dhana, suka berderma, beramal saleh tanpa pamrih.
Ijya, pemujaan dan sujud kehadapan Hyang Widhi dan leluhur.
Tapa, melatih diri untuk daya tahan dari emosi yang buruk agar dapat mencapai ketenangan batin.
Dhyana, tekun memusatkan pikiran terhadap Hyang Widhi.
Upasthanigraha, mengendalikan hawa nafsu birahi (sanggrahana, dll).
Swadhyaya, tekun mempelajari ajaran-ajaran suci khususnya, juga pengetahuan umum.
Bratha, taat akan sumpah atau janji.
Upawasa, menjalankan puasa atau berpantang terhadap sesuatu makanan atau minuman yang dilarang oleh agama.
Mona, membatasi perkataan.
Sanana, tekun melakukan penyucian diri pada tiap-tiap hari dengan cara mandi dan sembahyang.
Beramal / memberikan dana punia tanpa pamrih, suka mempelajari pengetahuan umum dan mentaati setiap pantangan oleh agama merupakan hal dasar dalam Dasa Nyama Bratha ini yang baik dilaksanakan untuk kehidupan sehari – hari. – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar

Kisah Seorang Anak

Seorang anak, menelepon Ayahnya yang tinggal pisah Rumah dgnnya dan ibunya.
Pagi itu, ibunya sakit dan tidak bisa mengantar Anaknya ke sekolah seperti biasanya.
Jarak sekolahnya 1KM Dari rumahnya, dan si anak bertubuh lemah.
Pagi itu jam 6:00 si anak menelepon ayahnya:

Anak: ayah, antarkan aku sekolah.

Ayah: ibumu kemana?

Anak: ibu sakit ayah, tidak bisa mengantarkan aku ke sekolah, Kali ini ayahlah antarkan aku ke sekolah.

Ayah: ayah tidak bisa, ayah nanti terlambat Ke kantor. Kamu naik Angkot saja atau ojek

Anak: ayah, uang ibu hanya tingal 10rb, ibu sakit, kami pun belum makan pagi, tak ada apa apa dirumah, kalau aku pakai untik ongkos, kasian ibu sakit belum makan, juga adik2 nanti makan apa ayah?

Ayah: ya sudah, kamu jalan kaki saja kesekolah, ayah juga dulu kesekolah jalan kaki.
Kamu anak laki laki harus kuat.

Anak: ya Sudah, terimakasih ayah.

Si anak mengakhiri teleponnya dengan ayahnya.
Diapusnya air mata di sudut matanya, lalu berbalik masuk kamar, ketika ibunya menatap wajahnya, dia tersenyum.

Ibu: apa kata ayahmu nak?

Anak: kata ayah iya ibu, ayah Kali ini yang antar aku kesekolah.

Ibu: baguslah nak, sekolahmu jauh, kamu akan kelelahan kalau harus berjalan kaki.
Doakan ibu lekas sembuh ya, biar besok ibu bisa antar kau kesekolah.

Anak: iya ibu, ibu tenang saja, ayah yg antar, ayah bilang aku tunggu didepan gang supaya cepat ibu.

Ibu: berangkatlah nak, belajar yg rajin yg semangat.

Anak: iya ibu

Tahun berganti tahun, kenangan itu tertanam dalam di ingatan si anak.
Dia sekolah sampai pasca sarjana dengan biaya beasiswa.
Setelah lulus dia bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang besar.
Dengan penghasilannya, dia membiayai hidup ibunya, membantu menyekolahkan adik adiknya sampai sarjana.

Satu hari, saat di kantor ayahnya bertelepon.

Anak: ada apa ayah?

Ayah: nak, ayah sakit, tidak ada yang membantu mengantarkan ayah kerumah sakit

Anak: memang istri ayah kemana?

Ayah: sudah pergi nak sejak ayah sakit sakitan.

Anak: ayah, aku sedang kerja, ayah kerumah sakit pakai taxi saja.

Ayah: kenapa kamu begitu? Siapa yg akan urus pendaftran di RS dan lain2? Apakah supir taxi? Kamu anak ayah, masakan orangtua sakit kamu tidak Mau Bantu mengurus?

Anak: ayah, bukankah ayah yang mengajarkan aku, mengurus diri sendiri? Bukankah ayah yang mengajarkan aku bahwa pekerjaan lebih penting daripada istri sakit dan anak ?

Ayah, aku masih ingat, satu pagi aku menelpon ayah minta antarkan Ke sekolahku,waktu itu ibu sakit, ibu yg selalu antarakn kami anak2nya..yang mengurus kami seorang diri, namun ayah katakan aku pergi jalan kaki, tubuhku lemah, sekolahku jauh, namun ayah katakan anak laki laki harus kuat, dan ayah katakan ayahpun dulu berjalan kaki kesekolah, maka aku belajar bhwa krn ayah lakukan demikian maka akupun harus lakukan hal yg sama..saat aku sakitpun hanya ibu yang ada mengurusku, saat aku membutuhkan ayah, aku ingat kata kata ayah, anak laki laki harus kuat.

Ayah tau? Hari itu pertama x aku berbohong kepada ibu, aku katakan iya ayah yg akan antarkan aku kesekolah, dan meminta aku menunggu di depan gang.
Tp ayah tau? Aku jalan kaki seperti yg ayah suruh, di tengah jalan ibu menyusul dgn sepeda, ibu BS tau aku berbohong, dengan tubuh sakitnya ibu mengayuh sepeda mengantarkan aku kesekolah.

Ayah mengajarkan aku pekerjaan adalah yg utama, ayah mengajarkan aku kalau ayah saja bisa maka walau tubuhku lemah aku harus bisa.
Kalau ayah bisa ajarkan itu, maka ayah pun harus bisa.

Si ayah terdiam..sepi diseberang telepon.
Baru disadarinya betapa dalam luka yang di torehkannya di hati Anaknya.

Anak adalah didikan orangtua
Bgmn kita bersikap, memperlakukan mereka kita sama saja sedang mengajarkan mereka bgmn memperlakukan kita kelak ketika kita tua dan renta.

Si anak Dosa?
Mungkin….
Si anak durhaka?
Barangkali….

Yang jelas ayahnya yg membuat Anaknya demikian.
Dan kelak orangtua membuat pertangung jwbnnya masing2 kepada sang Khalil, Si Empunya Anugerah yg di titipkan kepada msing2.

Menjadi orangtua bukan krn menanamkan Benih atau karena melahirkan.

Menjadi orangtua, karena mengasuh, mendidik, menyayangi, menberi waktu, perhatian, mengayomi, mencurahkan perhatian dan kasih sayang.

Menjadi orangtua, tidak ada kata pensiun..
Finishnya hanya dikematian.

Silahkan share jika dirasa bermanfaat – with Gusti Ngurah

View on Path

| Meninggalkan komentar

Dasa Yama Bratha adalah sepuluh macam pengendalian diri, Dasa Yama Bratha ini juga merupakan bagian dari ajaran subha karma yang meliputi yaitu :
Anresangsya atau Arimbhawa, tidak mementingkan diri sendiri
Ksama, suka mengampuni dan tahan uji dalam kehidupan.
Satya, setia kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang.
Ahimsa, tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain.
Dama, mampu menasehati diri sendiri.
Arjawa, jujur dan mempertahankan kebenaran.
Priti; cinta kasih dan sayang terhadap sesama mahluk.
Prasada, berfikir dan berhati suci dan tanpa pamerih.
Madurya, ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun.
Mardhawa, rendah hati; tidak sombong dan berfikir halus.
Kesepuluh istilah ini selalu mengajarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik.
Contoh-contoh pelaksanaan Dasa Yama Bratha, bertujuan agar kita dapat mengikutinya untuk kesempurnaan hidup ini seperti halnya :

Jangan mengaku dan merasa diri selalu paling benar.
Hiduplah rukun saling mengasihi sesama teman di sekolah
Menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai terhadap orang lain
dll – with Gusti Ngurah and 4J3N6

View on Path

| Meninggalkan komentar

*SEPULUH SIKAP HIDUP BAHAGIA*

*Oleh : Mahatma Gandhi*

*1. Lepaskanlah rasa kuatir dan ketakutan*
Ketakutan dan kekuatiran hanyalah imajinasi pikiran akan suatu kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. Kebanyakan hal-hal yang Anda kuatirkan dan takutkan tak pernah terjadi ! It’s all only in your mind.

*2. Buanglah dendam*
Dendam dan amarah yang disimpan hanya akan menyedot energi diri Anda dan hanya mendatangkan *KELELAHAN JIWA. BUANGLAH !!!*


*3. Berhentilah mengeluh*
Mengeluh berarti selalu tak menerima apa yang ada saat ini. Secara tak sadar Anda membawa-bawa beban negatif.


*4. Bila ada masalah, selesaikan satu per satu*
Hanya inilah cara menangani setiap masalah : Satu demi satu.


*5. Tidurlah dengan nyenyak*
Semua masalah tak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk dan tidak sehat. Biasakanlah tidur dengan nyaman.


*6. Jauhi urusan orang lain*
Biarkan masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri. Mereka memiliki cara sendiri untuk menangani setiap masalahnya.


*7. Hiduplah pada saat Ini, bukan masa lalu*
Nikmati masa lalu sebagai kenangan, jangan tergantung pada nya. Konsentrasilah hidupmu pada kejadian saat ini, karena apa yang Anda miliki adalah saat ini, bukan kemarin, bukan besok. “Be totally present”


*8. Jadilah pendengar yang baik*
Saat menjadi pendengar, Anda belajar dan mendapatkan ide-ide baru yang berbeda dari orang lain.


*9. Berpikirlah positif*
Rasa frustasi datang dari pikiran negatif. Kembalilah berpikir positif.
Bertemanlah dengan orang-orang yang berpikiran positif dan terlibatlah dengan kegiatan-kegiatan positif.


*10. Bersyukurlah atas hal-hal kecil yang akan membawa Anda pada hal-hal besar*
Sekecil apapun karunia yang Anda terima, akan menghasilkan hal-hal besar dan selalu membawa Anda kepada kebahagiaan saat Anda bersyukur.

SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA! – with Gusti Ngurah

View on Path

| Meninggalkan komentar